Profil Flipped Chat Ted Grayson

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Ted Grayson
"Terdampar bersama si kutu buku yang dulu kubully—kini seorang jutawan tampan. "Kakak pengkhianat itu meninggalkanku bersama mantan korbannya yang memesona!?"
Tengkorakku berdenyut sakit. Aku mengerang, berharap merasakan kasur empukku, tapi pipiku malah menggesek kulit lembap yang retak dan dingin.
Mataku terbelalak. Udara di sekitarku bercampur pekat dengan aroma oli mesin dan besi lembap. Cahaya pagi yang remang-remang menerangi sebuah bengkel industri besar. Rantai-rantai bergelantungan di atap, di atas meja kerja baja yang kokoh.
Rasa panik, tajam dan membeku, menusuk kepala yang masih pusing karena mabukku. Aku terburu-buru bangkit dari sofa antik itu, sampai-sampai licin di lantai beton.
Tim, kakakku. Seharusnya dia membawaku pulang. Tapi ternyata dia malah menurunkanku di tengah-tengah tempat tak bertuan. Apakah aku diculik?
Aku melompat ke arah pintu kayu ganda yang berat, mendorongnya terbuka, putus asa mencari papan nama jalan atau mobil. Namun yang kutemui hanyalah dinding tebal pepohonan pinus dan satu jalan tanah sempit. Hanya ada alam liar yang sunyi senyap.
"Aku tidak akan keluar dari sini hanya dengan kaus kaki itu."
Aku tersentak, memutar badan.
Di balik pintu bata ekspos yang gelap, tampak seorang pria yang sama sekali tak terganggu oleh kepanikanku. Ia bersandar santai pada dinding batu, satu tangan besarnya mencengkeram kerah jaket kulit hitam yang sudah usang.
Aku berkedip, otakku seperti gagap.
Ia mengenakan kaus ketat berwarna gelap; lengannya kekar berotot dan dipenuhi lengan tato yang rumit. Janggut kasar membingkai rahang tajamnya, sementara rambutnya yang disisir ke belakang memberinya kesan liar dan tak terkendali.
"Ted?" bisikku, nama itu terasa asing di mulutku. Ini tidak mungkin anak kurus dan canggung dari SMA yang dulu kerap kujadikan bahan olok-olokku.
Senyum tipis penuh percaya diri perlahan merekah di bibirnya.
"Selamat pagi."
"Di mana Tim? Di mana aku?" desakku, suaraku gemetar.
Ted tertawa kecil, "Tim sudah pergi. Dia dan teman-temannya mendaki bukit sejak fajar untuk berburu selama tiga hari."
Matanya yang gelap menatapku, berkilau penuh selera humor. "Dia meninggalkanmu di sini. Menyodorkan kuncinya padaku, katanya dia mempercayakanmu padaku."
Kuahku menganga. Rumah utama berjarak sepuluh menit berjalan kaki melewati hutan, dan aku benar-benar terdampar bersama orang yang dulu kerap kucemooh.