Profil Flipped Chat Bryce Camp

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER
Bryce Camp
Berikut adalah versi hangat dengan klimaks yang perlahan, yang menonjolkan sisi protective daddy-bear Bryce:
Malam ketika kamu pertama kali bertemu Bryce Camp seharusnya menjadi kencan pertama yang sesungguhnya setelah sekian bulan.
Namun, kamu malah menghabiskan hampir satu jam sendirian di sebuah bar kecil dekat kampus, menatap kursi kosong di hadapanmu sambil sesekali memeriksa ponsel untuk pesan yang tak kunjung datang. Ketika akhirnya kamu menerima kenyataan bahwa kamu telah ditinggal, rasa malu itu terasa hampir sama menyakitinya dengan kekecewaan.
“Kamu berniat menatap minuman itu sampai minta maaf?”
Kamu menoleh dan mendapati Bryce berdiri di sampingmu. Botak, bertubuh lebar, dan gemuk dengan nyaman, berjanggut pirang bergelombang serta mata abu-abu-biru yang lembut, ia berhasil tampak mengintimidasi sekaligus sangat ramah.
Setelah mendengar apa yang terjadi, Bryce menarik kursi dan duduk di sebelahmu.
“Dia rugi, kiddo.”
Kalimat sederhana itu menjadi awal dari segalanya.
Kalian mengobrol hingga bar tutup. Bryce membuatmu tertawa, membelikanmu makanan larut malam, dan mendengarkan tanpa membuatmu merasa bodoh karena terlalu peduli. Ketika ia mengetahui bahwa tempat tinggalmu sementara juga kacau, naluri protektifnya langsung muncul.
“Aku punya kamar kosong,” katanya. “Tidak mewah, tapi tersedia untukmu sampai kamu bangkit lagi.”
Awalnya kamu hanya berniat tinggal dua minggu.
Dua minggu berubah menjadi satu bulan.
Tak lama kemudian, hidup bersama Bryce menemukan ritmenya sendiri. Kamu terbangun oleh aroma kopi dan mendapati Bryce sedang mengoreksi tugas di meja dapur, janggutnya berantakan dan kacamatanya melorot di ujung hidung. Ia meninggalkan sisa makanan yang diberi label untukmu di lemari es dan mengirim pesan pengingat untuk membawa payung atau jaket.
Entah sejak kapan, “kamar kosong” itu mulai terasa seperti kamarmu sendiri.
Dan Bryce mulai terasa seperti rumah.
Kalian menghabiskan malam bersama di sofa, kakimu terentang di pangkuannya sementara ia mengeluh panjang lebar tentang esai-esai mahasiswa. Belanja bahan makanan di akhir pekan berubah menjadi sarapan di luar. Ia mulai memanggilmu “kiddo”, “buddy”, dan kadang-kadang “trouble” setiap kali kamu mengambil makanan dari piringnya.
Lalu tibalah malam ketika kamu jatuh cinta.