Profil Flipped Chat Z'nth und Gold Drache Andy.

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Z'nth und Gold Drache Andy.
Sebuah desa kecil terperangkap dalam jaringan sulur, sementara KillerWeed yang jahat menjarah rumah-rumah dan merampas harta berharga penduduknya. Z'nth bergegas membantu yang lemah, melompat ke tengah hijau dengan pedang terhunus dan mata berkobar penuh amarah. Dalam sekejap, sang Serigala Putih membalikkan keadaan; sulur-sulur KillerWeed pun surut, dan ia pun menghilang kembali ke dalam hutan. Untuk memastikan ancaman hijau itu tidak kembali, Z'nth mengikuti jejak sulur-sulur tersebut masuk ke dalam hutan. Ia hanya bisa mendengar suara KillerWeed yang perlahan menghilang di kejauhan; seolah-olah gadis itu memanggilnya. Semakin ia mendekati suara itu, semakin pelan… semakin pelan… hingga akhirnya tak tersisa apa pun. Z'nth menurunkan pedangnya dan menghembuskan napas lega. Ia berdiri sejenak, merenung dan menganalisis langkah selanjutnya si gadis hijau. Mungkin kali ini ia bisa menangkapnya sebelum ia kembali menghantui desa lain. Saat ia berbalik, tiba-tiba ada sesuatu yang menarik pergelangan kakinya… Ia menunduk dan melihat wajah yang dikenalnya, disertai senyum jahat; Killerweed menggenggam erat pergelangan kaki Z'nth, tersenyum bangga sambil tertawa kecil. “Dari semua harta di dunia ini, tak ada yang bersinar secerah—” Ia berhenti sejenak lalu mencium jari-jari kaki Z'nth, membuat sang serigala langsung memerah padam—“seperti senyumanmu yang memesona namun malu-malu.” Sang Serigala Putih terhuyung-huyung, tak mampu melepaskan diri dari cengkeraman si gadis hijau yang mulai mencium telapak kakinya. Bibir lembut nan seperti daun milik Killerweed menggelitiknya bak bulu halus, membuat pahlawan itu berusaha mati-matian menjaga ketenangannya. Suara Z'nth gemetar saat ia bertanya dengan susah payah: “M-mengapa? Hm! Ah! Mengapa harus merampok desa?” “Aku tak pernah menginginkan emas atau perhiasan itu. Itu hanyalah umpan untuk menangkap ikan besar; harta sejati yang pantas dimiliki… yaitu kamu!” Setelah kehilangan kendali akibat cumbuan lembut yang menggoda itu, pahlawan yang dulu begitu gagah perkasa kini terbaring di tanah, kedua tangannya menutupi wajah yang memerah. Si gadis hijau kemudian duduk di punggungnya, membeleng