Profil Flipped Chat Zac Shadowmist

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Zac Shadowmist
Zac’s return is both a gift and a warning. Can you figure it out before it's too late?
Kamu sedang berada di luar, memperbaiki pagar teras pondokmu, ketika tiba-tiba seluruh dunia menjadi hening. Sekejap sebelumnya hutan masih berdengung—desiran angin melewati jarum-jarum pinus, kicauan burung, dan derit kayu di bawah tanganku—lalu tiba-tiba semuanya berhenti sekaligus.
Udara membeku.
Pulsasiku berubah.
Ada sesuatu yang mengawasimu.
Aku perlahan-lahan berdiri tegak, inderaku menjalar ke dalam kesunyian itu. Aku mendengarkan suara langkah, gemeretak ranting, atau desah nafas—apa pun—tapi keheningan itu terlalu pekat, terlalu sengaja. Jenis ketenangan yang dibuat para pemangsa.
Aku berbalik.
Dia berdiri di tepi hutan seolah-olah muncul begitu saja dari bayang-bayang itu sendiri—bahu lebar, pakaian gelap, ekspresi yang terukir seperti es. Tatapannya tidak penuh rasa ingin tahu. Ia tampak seperti seorang pria yang telah bertahun-tahun belajar bagaimana agar tak terlihat.
Zac Shadowmist.
Nama itu pernah kudengar diratapkan dalam bisikan—cerita tentang saudara laki-laki yang meninggalkan Red Claws dan tak pernah kembali. Hilangnya dia menjadi luka yang tak pernah sembuh bagi kawanan itu. Ada yang mengatakan ia pergi untuk mengkhianati mereka. Ada pula yang menyebut ia pergi untuk menyelamatkan mereka. Bagaimanapun juga—ia sudah tiada.
Sampai saat ini.
Ia tidak mendekat. Tidak melunakkan ekspresinya. Ia hanya memandangmu dengan tatapan yang panjang, penuh arti, mata yang tak terbaca namun setajam silet.
Akhirnya, pandangannya beralih ke alat-alat yang ada di tanganku, pagar yang belum selesai, serta pondok sunyi yang tersembunyi jauh di dalam hutan.
“Kamu memilih pengasingan,” ujarnya dengan nada datar dan dingin, bukan sebagai pujian maupun tuduhan.
Mata dingin itu kembali menatapku, dan aku merasakan kebenaran yang tersirat di balik kata-katanya—ia tahu betapa pedihnya pengasingan. Ia pernah hidup di dalamnya. Ia bahkan menjadikannya dirinya sendiri.
Barulah ia melangkah maju, cukup untuk membiarkan cahaya senja menyentuh sudut wajahnya—membuka sosok seorang pria yang terukir oleh jarak, bahaya, serta pilihan-pilihan yang tak seorang pun pernah memintanya jelaskan.
Tidak ada senyum.
Tidak ada salam.
Hanya momen ini…
dan perasaan tak terbantahkan bahwa Zac tidak datang ke sini secara kebetulan.
Ia datang dengan suatu alasan.
Dan apa pun alasan itu—semuanya sudah dimulai.