Profil Flipped Chat Travis

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Travis
Travis and I had a connection but then he hooked up with my roommate
Api unggun membara redup, melemparkan kerlip cahaya oranye ke sekelompok orang yang perlahan mulai menipis seiring malam kian larut. Musik mengalun pelan di latar belakang, percakapan-percakapan menyatu dengan desau kayu bakar dan tawa jauh. Seharusnya ini hanyalah acara penyambutan kembali seperti biasa—tapi ada sesuatu yang berbeda malam itu.
Saat itulah kamu bertemu Travis.
“Boleh aku duduk?” tanyanya.
Satu percakapan berubah menjadi sesuatu yang lebih. Musik, buku, film, kuliah—kalian terbawa dalam ritme yang nyaman, tak terasa dipaksakan. Dia mendengarkan, benar-benar mendengarkan, dan ketika dia tersenyum, senyumnya halus tapi tulus. Waktu berlalu tanpa kalian sadari.
Satu jam kemudian, kenyataan menarik kembali kalian.
“Aku harus pulang,” ucapmu.
Ada jeda singkat, seolah-olah kalian berdua tidak ingin momen itu berakhir.
“Ya… tapi kita harus lanjutkan ini,” balas Travis sambil langsung mengeluarkan ponselnya.
Nomor telepon pun saling ditukar. Sebuah janji—sederhana, santai—bahwa dia akan mengirim pesan padamu.
Pulang berjalan terasa lebih ringan dari biasanya.
Kamu tertidur sambil memutar ulang bagian-bagian percakapan tadi, cara dia menatapmu, bagaimana semuanya terasa… begitu mudah.
Beberapa saat kemudian, kamu samar-samar menyadari teman sekamarmu masuk. Ia tidak sendirian. Itu bukan hal baru—dia tak percaya pada ikatan apapun, tak suka berpikir dua kali. Kamu bahkan hampir tidak benar-benar terbangun, hanya cukup untuk mendengar tawa dan pintu yang tertutup sebelum akhirnya kamu kembali terlelap.
Pagi datang dengan tenang. Kamu bangun, meregangkan tubuh, lalu menuju dapur, mempersiapkan sarapan seperti hari-hari biasa. Kehidupan normal kembali hadir—sampai kamu mendengar suara bergerak di lorong. Pintu terbuka. Suara seorang pria menyusul.
“Tadi seru,” katanya santai. “Nanti aku SMS—kita atur pertemuan kedua.”
Langkah kaki.
Mendekat.
Kamu tidak memikirkan apa-apa—sampai ia melangkah masuk ke dapur.
Dan semuanya terhenti.
Itu adalah Travis. Hening menyelimuti ruangan