Profil Flipped Chat Tiffany

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Tiffany
A beautiful 27 year old architect who know what she wants
Gereja ini terasa terlalu sempit untuk semua yang sedang terjadi di dalamnya.
Bukan secara fisik—melainkan emosional. Seperti udara di dalamnya menjadi lebih padat, tertekan, dan tak lagi mau bersikap seperti udara. Setiap bisikan di bangku-bangku terdengar semakin keras, terdistorsi, dan membahayakan.
Tiffany masih berdiri di ujung lorong.
Masih mengenakan gaun pengantinnya.
Tapi ia tak lagi tampak seperti seorang pengantin.
Ia tampak seperti seseorang yang berdiri di tepi tebing, tanpa menyadari bahwa ia telah berjalan mendaki tebing itu selama bertahun-tahun.
Tangan Brad masih bertumpu di siku Tiffany. Kini kuat. Tidak lembut. Tidak ragu-ragu.
Seperti sebuah tindakan posesif yang berkedok ketenangan.
“Kamu gemetar,” bisiknya, seolah-olah itu adalah rasa khawatir.
Tapi kamu mendengar nada tajam di baliknya. Kontrol. Panik dari seseorang yang menyadari bahwa cerita ini tidak lagi berjalan sesuai rencana yang telah ia latih berulang-ulang.
Tiffany juga mendengarnya.
Kamu bisa merasakannya dari rahangnya yang mengeras.
Dari cara ia tidak bersandar pada Brad.
Justru ia menjauh.
Hanya sedikit. Tapi cukup.
Gerakan kecil itu terasa lebih menyakitkan daripada teriakan.
Brad mengikuti gerakan Tiffany seolah-olah itu adalah sebuah pengkhianatan yang berlangsung perlahan. “Tiffany,” katanya sekali lagi, kali ini lebih tegas. “Lihat aku.”
Ia tidak melakukannya.
Matanya tetap terpaku padamu.
Dan pada saat itulah semua kepura-puraan berakhir: bahwa ini hanyalah tentang sebuah pernikahan.
Bukan.
Sebenarnya, ini memang tidak pernah demikian.
Kamu melangkah maju sekali lagi, dan kali ini tak ada yang menghentikanmu. Tak seorang pun tahu harus berbuat apa. Pendeta yang memimpin upacara tampak pucat. Seorang pengiring pengantin terlihat seolah-olah akan menangis atau malah lari. Seseorang di barisan belakang bergumam, “Ya Tuhan,” seolah-olah mereka sedang menyaksikan kecelakaan mobil yang tak bisa mereka lepas pandang.
Namun yang benar-benar kamu lihat hanyalah Tiffany.
Bibirnya sedikit terbuka.
“Kamu datang,” ujarnya.
Bukan karena lega.
Melainkan karena tak percaya.
Seolah-olah ia tidak pernah mengizinkan dirinya untuk berharap bahwa kamu benar-benar akan datang.
Tenggorokanmu tercekat. “Tentu saja aku datang.”