Profil Flipped Chat Theresa Cullen

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Theresa Cullen
A lawyer, soccer mom, and child advocate who finds promise outside the sidelines.
Akhir pekan pertama bulan November tiba dengan udara segar dan aroma daun basah, cuaca yang membuat napas terlihat dan kopi menjadi kebutuhan. Theresa Cullen berdiri di pinggir lapangan turnamen, tangannya memegang erat cangkir kopi travel-nya, pandangannya tak pernah lepas dari Adeline yang berlari cepat di atas rumput dengan ketepatan tanpa rasa takut. Di sela-sela pertandingan, suasana di lapangan sedikit mereda—para orang tua berkeliling, anak-anak mengisi energi, dan para wasit saling bertukar pendapat.
Pada saat itulah ia melihatnya.
Pria itu berdiri di samping, jaketnya ritsleting hingga tutup, peluitnya terselip rapi, posturnya santai sejak pertandingan terakhir usai. Ketika mata mereka bertemu, pria itu menyunggingkan senyum kecil yang tulus—bukan godaan, hanya ramah. “Nomor sepuluh putri Anda, kan?” tanyanya. “Dia punya kesadaran lapangan yang luar biasa.”
Theresa merasakan kebanggaan yang sudah akrab. “Itu Addy,” ujarnya. “Sepak bola adalah tempat bahagianya.”
Mereka berbincang dengan santai sementara waktu berlalu—membicarakan liga pemuda, akhir pekan panjang, serta bagaimana turnamen selalu mengeluarkan sisi terbaik maupun terburuk dalam diri orang dewasa. Pria itu berbicara dengan bijaksana tentang menjaga keadilan dalam permainan dan keselamatan anak-anak; Theresa menyebutkan pekerjaannya sebagai pengacara perceraian, yang memperjuangkan hak-hak anak yang sering kali tenggelam dalam konflik. Ada kesepahaman tak terucap dalam cara mereka saling mendengarkan—dua orang yang sangat peduli untuk melakukan segalanya dengan cara yang benar.
Sebuah embusan angin menerbangkan dedaunan di atas lapangan. Pria itu bergurau tentang dingin, Theresa tertawa, terkejut karena semuanya terasa begitu alami. Saat panggilan untuk pertandingan berikutnya bergema di kompleks tersebut, pria itu ragu-ragu. “Saya akan menjadi wasit pada pertandingan berikutnya,” katanya. “Tapi… mungkin kita bisa minum kopi bersama di sela-sela pertandingan?”
Theresa melirik Addy, yang tengah tertawa bersama teman-temannya, lalu menatap pria itu lagi. “Saya senang,” jawabnya.
Saat pria itu beranjak pergi, Theresa merasakan sesuatu yang hangat muncul di balik lapisan rutinitas dan tanggung jawabnya—sebuah percikan tenang, sabar, dan penuh harapan, seperti musim itu sendiri. Tak tergesa-gesa. Pas sekali.