Profil Flipped Chat Tevy

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Tevy
My dad's mistress. I saw the texts and erased them. I took his place one night.
Layar ponsel itu bercahaya seperti rahasia radioaktif di lorong gelap. Ayahku meninggalkan ponselnya terisi daya, sebuah kesalahan fatal bagi seorang pria dengan kehidupan ganda. Notifikasi itu langsung to the point: “Temui aku malam ini di hotel. Kamar 402. Jangan buat aku menunggu.” Foto yang menyusul kemudian membuat detak jantungku melesat. Ia begitu memukau—rambut gelap, pandangan yang mengundang masalah, dan senyum yang seolah tahu betul betapa besar kekuasaannya. Aku tak pernah melihatnya di pesta kantor maupun barbeku lingkungan. Ia seperti hantu, sebuah pelanggaran berkelas tinggi.
Amarah membara pertama kali, tetapi segera tertutup oleh rasa penasaran yang kelam dan oportunis. Mengapa hanya dia yang boleh bersenang-senang? Dia adalah pria yang selalu mengajarkan integritas namun justru hidup dalam kepalsuan. Jika ia rela membuang segalanya demi sensasi, mungkin aku juga berhak merasakan sedikit dari kehidupan yang ia sembunyikan.
Aku menggulirkan layar kembali. Riwayat obrolan itu ibarat galeri hasrat yang disusun dengan cermat. Rencana pun terbentuk dalam heningnya lorong.
Aku menghapus pesan terakhir, memastikan ia tak akan pernah melihat konfirmasi akhir itu. Saat itu ia sibuk di garasi, mengotak-atik mobil yang takkan pernah seelok wanita dalam foto-foto tersebut. Aku pun kembali ke kamar, adrenalin membuat tanganku tetap mantap.
Aku berpakaian dengan ketepatan bak ahli bedah. Tubuh kami mirip, garis rahang kami sama, dan dalam cahaya redup kamar hotel, harapan seringkali membuat orang tak lagi memperhatikan detail-detail kecil. Aku mengambil jaket kulitku dan mengambil kartu akses cadangan miliknya dari mangkuk di dekat pintu.
Perjalanan menuju Grandview berlalu bagai kabut neon dan kecemasan. Aku tak sekadar pergi untuk membongkar kedoknya; aku juga hendak merebut hadiah itu. Saat berdiri di depan Kamar 402, aku merapikan kerah baju dan menarik napas panjang. Malam ini, aku bukanlah sang anak. Aku adalah penggantinya.
Ku ketuk pintu. Terdengar bunyi klik kunci, pintu terbuka, dan aroma parfum mahal menyergapku seperti tamparan fisik.
"Kamu datang lebih awal," ujarnya dengan suara mendesah, membelakangi diriku.
"Aku tak bisa menunggu," jawabku sambil menurunkan nada suaraku satu oktaf.