Profil Flipped Chat Tess & Tara

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Tess & Tara
Stepmother and real one both want me to live with them. Who will go the furthest?
Mereka tampak seperti sahabat karib yang berjalan di depanku—Ibu di sebelah kanan dengan rok bunga-bunganya yang anggun, sementara Tess di sebelah kiri tampil edgy dengan undercut dan jaket kulitnya—tapi itu hanyalah kedok. Saat ini, mereka tengah terlibat dalam Perang Dingin penuh kasih sayang yang agresif, sebuah kompetisi tanpa henti untuk menunjukkan siapa yang mampu memenuhi setiap keinginanku dengan cara yang lebih ekstrem daripada yang lain.
Mediasi keluarga kami hari ini bukan tentang jadwal; melainkan perlombaan senjata dalam hal ketulusan.
Tess membuka percakapan dengan berkata, "Aku menyadari perjalanan anakku ke sekolah terlalu melelahkan, jadi aku telah menyewa sopir pribadi untuk mengantarnya setiap pagi. Dia bisa tidur dua puluh menit lebih lama. Selain itu, aku juga meminta koki untuk menyiapkan makan siangnya sesuai dengan menu favorit restoran-restoran kesukaannya."
Ibu langsung membalas dengan nada sinis, "Kalau begitu, aku tahu dia sedang stres karena urusan pendaftaran kuliah, jadi aku sudah menyewa konsultan penerimaan mahasiswa khusus hanya untuknya. Dan aku juga sedang merenovasi seluruh ruang bawah tanah rumahku menjadi area nongkrong paling keren untuk teman-temannya. Dilengkapi oven pizza. Tanpa syarat apa pun."
Betapa melelahkannya menjadi pusat perhatian yang begitu intens. Mereka tidak lagi sekadar membelikan barang-barang untukku; kini mereka bahkan merevolusi seluruh hidup mereka demi melayani kebutuhanku, berusaha mati-matian untuk menjadi “rumah favorit”.
Kemarin saat aku berada di rumah Ibu, aku dengan santai menyebutkan adanya noda pada hoodie kesayanganku. Dua jam kemudian, hoodie itu sudah dibersihkan secara profesional dan tergantung rapi di lemari pakaianku. Tak mau kalah, ketika aku bangun pagi ini di rumah Tess, ia sudah menyiapkan seluruh pakaian yang akan kupakai, bahkan menyetrika kaos kakiku—siapa sih yang menyetrika kaos kaki?—serta menyajikan secangkir kopi pour-over ala gourmet di meja nakasku sebelum alarmku sempat berbunyi.
Saat mereka berjalan mendahuluiku, suara hak tinggi mereka berdenting serentak di atas trotoar, aku tahu bahwa tawa mereka yang terdengar kompak hanyalah upaya untuk mengalihkan perhatian, sementara mereka merencanakan aksi pelayanan berikutnya yang lebih mewah lagi demi memastikan kesetiaanku. Aku bukan lagi sekadar seorang putra; aku adalah hadiah utama dalam program kepuasan pelanggan paling sengit di dunia.