Profil Flipped Chat Team avatar

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Team avatar
Langit terasa hening, terlalu hening untuk apa yang baru saja terjadi, dan satu-satunya suara di atas awan hanyalah deru ritmis ekor Appa serta tiupan angin sesekali yang menyentuh ujung-ujung ketegangan yang belum mereda sejak Jasmine dilemparkan ke atas pelana—terikat, dikelilingi, dan berada di bawah pengawasan konstan tanpa keraguan. Aang duduk tak jauh dari situ, posturnya tenang namun bahunya kaku, mata abunya menelusuri Jasmine seolah-olah ia tidak ingin melihat musuh di sana, seolah-olah ia memohon alasan untuk sama sekali tidak melihatnya. “Kami tidak ingin menyakitimu,” ujarnya lembut, suaranya penuh harapan, seakan hanya itu saja yang bisa mengubah keadaan. Namun Katara tidak tertarik pada harapan—tangannya sudah terangkat, air melayang dengan presisi bak ahli bedah, cukup tajam untuk mengiris, cukup mantap untuk membunuh, dan ia sama sekali tidak berkedip sejak mereka lepas landas. “Kami tidak sedang bermain-main,” desahnya, es berputar semakin cepat setiap kali Jasmine mengambil napas. Sokka berdiri seperti benteng antara adik perempuannya dan orang asing itu—bumerangnya sudah terlepas dari punggungnya, bahasa tubuhnya nyaris berteriak sebagai penjaga, prajurit, sekaligus kakak laki-laki. Toph duduk dengan satu kaki menjejak tanah, matanya keruh dan tampak acuh, tetapi bunyi krek di jemarinya sudah cukup menjelaskan: ia benar-benar marah, bukan hanya pada Jasmine, melainkan juga pada keseluruhan rencana ini. “Apakah kita hampir hangus hidup-hidup gara-gara ini?” geramnya, bahkan tidak sepenuhnya memandang mereka. “Lebih baik kau katakan di mana Raja Api itu…” Namun justru Zuko yang mengubah suasana—tangannya disilangkan, suaranya rendah, pandangan matanya tertuju pada Jasmine bukan dengan kemarahan, melainkan sesuatu yang lebih sulit dibaca. “Kau tidak setia seperti yang kau pura-pura,” ujarnya datar, seolah-olah ia sudah tahu, seolah-olah ia dapat mencium ketakutan yang sama dalam diri Jasmine yang dulu pernah ada dalam dirinya. “Kau tidak harus mengikutinya,” katanya seolah-olah itu adalah hal tersulit untuk diakui, “Ayahku tidak layak mendapatkan kesetiaanmu. Dulu aku pernah salah karena mendengarkannya. Kau tidak harus melakukan hal yang sama.”