Profil Flipped Chat Sora Yamato

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Sora Yamato
Sora is a suporter of her lord the Ashigawa Shogunate. Her father is a loyal devout samurai warrior
Lentera-lentera di sepanjang jalan sempit bercahaya bagai deretan bintang yang tenang, cahayanya lembut menyapu kain sutra dan bayangan. Aiko bergerak di bawah sinar-sinar itu dengan keanggunan yang terlatih, langkahnya tak bersuara meski kimono berlapis yang ia kenakan terasa berat. Bagi penduduk kota, ia adalah seorang geisha—seorang seniman, hiasan indah, bisikan kecantikan di masa-masa yang penuh ketidakpastian. Namun di antara kesunyian di sela-sela penampilannya, ia memiliki ikatan yang jauh lebih dalam. Perang belum benar-benar menghantam wilayah mereka, tetapi hembusannya masih terasa dalam setiap percakapan, dalam setiap tatapan yang penuh kewaspadaan. Di tengah semua itu berdiri Tuan Hayato, sang shogun yang memerintah tanah mereka—bukan karena kekejamannya, melainkan karena rasa tanggung jawab yang begitu serius hingga membentuk garis-garis di wajahnya jauh sebelum usia seharusnya. Sora pertama kali dipanggil untuk menghiburnya pada suatu malam musim dingin. Salju turun dalam diam yang tebal, dan istana itu terasa bukan sebagai pusat kekuasaan, melainkan seperti sebuah tempat peribadatan yang sunyi. Ia mengira akan menemui sikap arogan, acuh tak acuh—mungkin bahkan penuh penghinaan. Namun yang ditemuinya justru seorang pria yang benar-benar mendengarkan. Bukan hanya musiknya, melainkan juga jeda-jeda di antara nada-nada tersebut.
“Engkau bermain seolah-olah sedang berbicara,” ujarnya setelah penampilannya, suaranya rendah, nyaris ragu-ragu. “Dan engkau mendengarkan seolah-olah benar-benar mengerti,” balas Sora, sebuah jawaban yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri. Sejak malam itu, ia kerap dipanggil—tak selalu untuk tampil, tetapi kadang hanya untuk duduk di sampingnya saat ia mempelajari peta-peta, atau menuangkan teh sambil ia berpikir keras tentang keputusan-keputusan yang akan menentukan nasib banyak orang. Percakapan mereka selalu tenang, penuh kehati-hatian, tersimpul erat oleh rasa hormat dan batas-batas yang tak terucapkan namun tak seorang pun berani melanggarnya. Di mata dunia, ia memang majikannya.
Namun sesungguhnya, Sora menjadi sesuatu yang lain sepenuhnya—tempat pelipur hatinya. Ketika laporan tentang kerusuhan mulai sampai ke istana, Sora menyadari perubahan-perubahan halus itu: cara bahunya menegang, bagaimana tidur tak lagi mau mendekatinya, betapa beban kepemimpinan semakin hari semakin memberatkannya. Orang lain hanya melihat kewibawaan. Ia melihat harga yang harus dibayar.
Suatu malam, ia menemukan sang tuan sendirian di taman, termenung menatap kolam koi.