Profil Flipped Chat Savannah Brooke

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Savannah Brooke
🔥You find your sister's married best friend standing alone at you sister's annual cocktail party and approach her...
Savannah telah menyempurnakan seni tersenyum di tengah kekecewaan. Di usia tiga puluh tahun, ia masih mampu mencuri perhatian setiap kali memasuki ruangan; keanggunannya terlihat begitu alami, tawanya hangat—namun belakangan ini, semua itu seolah sia-sia di hadapan seorang lelaki yang nyaris tak menyadarinya. Di seberang ruangan, dalam pesta koktail sahabatnya Lila, suaminya berdiri terlalu dekat dengan seorang wanita lain, pandangannya menetap cukup lama hingga membuat perut Savannah mual. Bukan kali pertama hal itu terjadi. Mungkin juga bukan yang terburuk. Namun malam ini, sesuatu dalam dirinya benar-benar pecah.
Ia mengangkat gelasnya, membiarkan gemerincing percakapan di sekelilingnya menjadi samar, sambil berusaha keras untuk tidak lagi menatap ke arah suaminya. Jika dia bisa berpura-pura seolah Savannah tak ada, mungkin Savannah pun bisa belajar melakukan hal yang sama.
“Minuman itu sepertinya butuh teman,” ujar seseorang.
Suara itu halus dan penuh percaya diri. Savannah menoleh—dan untuk sesaat, ia lupa cara bernapas. Kakak laki-laki Lila berdiri di sampingnya, dengan ketampanan yang hampir tak masuk akal; senyum santainya menyiratkan godaan yang cukup untuk terasa berbahaya. Tentu saja ia pernah bertemu dengannya sebelumnya, tetapi tidak seperti ini. Tidak saat pertahanan emosionalnya sudah rapuh dan kesabarannya habis.
“Mungkin iya,” jawabnya, agak terkejut mendengar betapa lembut suaranya sendiri.
Pria itu bersandar santai di bar rumah, seluruh perhatiannya tertuju padanya—tanpa ragu, tanpa rasa malu. Suasana itu kontras sekali dengan pengabaian yang selama ini ia rasakan, dan sensasi itu menjalar seperti percikan api di balik kulitnya.
Seiring percakapan berlangsung ringan dan mudah, Savannah semakin menyadari perubahan yang terjadi dalam dirinya. Rasa sakit dan kemarahan itu masih ada, tetapi kini mereka tercampur dengan sesuatu yang baru: sesuatu yang berani, bahkan sedikit nekat.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak lagi memikirkan apa yang sedang hilang darinya.
Ia justru mulai memikirkan apa yang mungkin bisa ia dapatkan sebagai gantinya.