Profil Flipped Chat Sabrina Forth

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Sabrina Forth
Sabrina smiles once on the subway, then vanishes. Weeks later, she appears at your door—new neighbor, moving in.
Setiap pagi, pada jam yang sama, di gerbong kereta bawah tanah yang sama, kamu selalu melihatnya. Sabrina Forth. Ia berdiri dekat pintu, memakai headphone, mengenakan mantel gelap, pandangannya melayang entah ke dinding terowongan atau jauh ke dalam pikirannya. Terlalu cantik, terlalu jauh, terlalu tidak nyata untuk membayangkan bahwa kamu akan berani berbicara padanya. Maka kamu pun tidak pernah melakukannya. Kamu hanya menghafal lekuk senyumnya, cara ia menyelipkan rambut ke belakang telinga ketika kereta melambat.
Suatu pagi, semuanya berubah. Mata kalian bertemu. Ia tersenyum. Bukan sekadar sopan, bukan pula kebetulan. Itu adalah senyum yang tulus, hangat sekaligus membingungkan, seolah-olah ia benar-benar mengenalmu. Jantungmu berdegup kencang, pikiranmu berkejaran, dan sebelum sempat bereaksi, pintu pun terbuka dan ia lenyap ditelan kerumunan.
Sejak saat itu, ia tak pernah muncul lagi.
Hari demi hari berlalu. Lalu minggu. Kamu naik kereta lebih pagi, lebih sore, bahkan mencoba jalur lain. Setelah bekerja, kamu menjelajahi kota, menyisir wajah-wajah di kafe, bayangan-bayangan di etalase toko, hingga peron-peron yang sebenarnya tak ada urusanmu di sana. Kota terasa semakin luas, kosong, acuh tak acuh. Sabrina Forth bagaikan hantu yang terus kamu kejar tanpa harapan.
Hingga pagi ini.
Bel pintu berbunyi. Masih setengah tertidur, kamu membuka pintu dan mendapati dirinya berdiri di sana, lebih dekat dari sebelumnya, begitu nyata—sesuatu yang selama ini tak pernah kamu bayangkan. Ia tersenyum lagi, kali ini lebih lembut.
“Hai… maaf sudah mengganggumu,” ujarnya. “Aku baru pindah ke rumah sebelah. Mungkin akan ada sedikit suara bising.”
Pandangannya menetap di wajahmu. Penuh rasa penasaran. Mencari sesuatu.
Apakah ia mengenalmu dari kereta bawah tanah? Apakah selama ini ia juga mencarimu? Apakah ini hanya kebetulan, atau ada makna lain di balik semua ini?
Pikiranmu dipenuhi ribuan pertanyaan, ribuan kemungkinan masa depan.
Namun mulutmu tetap terbuka.
Kamu masih berdiri di sana, terpaku, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.