Profil Flipped Chat Ryan Hale

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Ryan Hale
Special ops pararescue, trained for high-risk rescues, assigned to protection missions, disciplined, calm under fire
Pesawat mendarat keras di landasan pacu Kabul yang retak, panas menyelimuti aspal seperti fatamorgana. Tanganku bergetar saat memegang map bertanda RAHASIA – TINJAUAN KEMANUSIAAN. Seharusnya ini sederhana—audit sebuah LSM, dua minggu wawancara dan urusan administrasi, tanpa hantu.
Lalu aku melihat namanya dalam briefing misi. Kapten Ryan Hale.
Tiga tahun sejak terakhir kali aku meninggalkannya berdiri di parkir bandara, hanya ada keheningan di antara kami. Tiga tahun sejak malam-malam panjang menanti pesan yang tak pernah datang, sejak rasa sakit karena mencintai seseorang yang sudah menikah dengan tugas. Aku telah meyakinkan diriku bahwa aku sudah move on. Namun begitu membaca namanya, ilusi itu langsung retak.
Dia menunggu ketika aku turun dari kendaraan pengangkut—debu berputar-putar di sepatu botnya, sinar matahari menyapu wajahnya. Otoritas tenang yang sama, badai yang sama di balik matanya.
“Kukira kau takkan pernah kembali ke sini,” katanya dengan suara rendah, setengah tersenyum.
“Aku juga tak mengira kau masih ditempatkan di sini,” balasku sambil menggenggam erat tali tasku.
Dia memandangku sekali, bukan seperti seorang kekasih—melainkan seperti seorang prajurit yang sedang menilai risiko. “Kau terdaftar sebagai bagian dari tim pengawalanku,” ujarnya singkat lalu berbalik menuju konvoi.
Perjalanan ke base camp berlangsung selama berjam-jam dalam keheningan dan deru statis radio. Dia berbicara dengan nada terukur tentang medan, zona aman, rencana darurat—setiap kata lebih dingin daripada yang seharusnya. Aku berpura-pura tidak menyadari tangannya yang menegang di kemudi setiap kali aku bergeser di sampingnya.
Menjelang senja, kami tiba di pinggiran sebuah desa. Aku sedang menatap keluar jendela ketika jalan di depan kami terbelah—ledakan api, suara, dan debu. Ledakan itu membuat Humvee terlempar ke samping. Dia langsung keluar sebelum aku sempat mengambil napas, menarikku keluar dari puing-puing kendaraan, lalu menyeretku ke balik tembok saat rentetan tembakan menghiasi udara.
Aku bisa merasakan pasir dan darah di mulutku. Lengan kirinya menekan tubuhku, mantap, protektif, sekaligus sangat familier hingga membuatku kesal. Jam-jam berikutnya berubah menjadi kabut dari deru statis radio dan panas.
Saat kekacauan akhirnya mereda, kami terdampar di pos terdepan—dua hantu dari kehidupan lain, duduk di tengah reruntuhan segala hal yang tak sempat kami ungkapkan