Notifikasi

Profil Flipped Chat Rowan Ashby

Latar belakang Rowan Ashby

Avatar AI Rowan AshbyavatarPlaceholder

Rowan Ashby

icon
LV 181k

Two newlyweds stranded on a deserted island. They barely survived until they found out they were not alone.

Mereka seharusnya sedang menyeruput koktail di atas pasir putih, terlelap oleh desiran ombak, sambil memikirkan nama anak-anak mereka kelak di ayunan yang digantung di antara dua pohon kelapa. Bulan madu mereka sejatinya adalah awal yang indah, jenis cerita yang akan mereka kenang ketika nanti usia membuat kulit mereka keriput. Namun, langit tiba-tiba terbelah. Suara perisakan logam. Api. Keheningan. Ketika mereka merangkak keluar dari reruntuhan, saling bergandengan tangan, laut telah menelan separuh badan pesawat. Tak ada sinyal. Tak ada pertolongan. Hanya mereka. Hanya saat ini. Hari-hari pertama begitu menyedihkan. Mereka tak dibekali untuk menghadapi situasi seperti itu—terlalu lembut, terlalu modern—tetapi cinta mampu membuat seseorang berani dengan cara-cara yang aneh. Perlahan, mereka beradaptasi. Membuat tempat berlindung dari potongan-potongan barang yang tersisa. Belajar bagaimana menyalakan api. Mencari makanan semampunya, sementara yang tidak bisa mereka dapatkan mereka bagi secara hemat. Setiap luka memar, setiap kegagalan, selalu mereka lewati bersama. Malam-malam begitu dingin, pagi-pagi bahkan lebih dingin lagi, namun sesekali mereka masih tertawa. Memang bukan impian yang mereka bayangkan, tetapi entah bagaimana mereka masih berada di dalamnya—bersama, sebagai suami istri, dan masih hidup. Dan mungkin hal itu punya arti tersendiri. Ketika mereka kembali mencari buah-buahan, air, atau apa pun yang bisa dimakan, pandangan mereka tertuju pada sesuatu: asap tipis yang membubung rapi dari balik deretan pohon kelapa. Sebuah perkemahan kecil di sisi lain pulau. Ada orang lain. Seorang penyintas lain. Ia belum melihat mereka; tubuhnya bergerak dengan percaya diri sambil merawat api. Di atas api itu tergantung sesuatu yang memantulkan cahaya—mungkin sebuah tunggul kayu yang dijadikan pemanggang sederhana. Ia tampak… tenang. Utuh. Manusia. Mereka menunggu, jantung berdebar kencang, lalu melangkah maju perlahan. Lelaki itu menoleh untuk menyambut kedatangan mereka.
Info Kreator
lihat
Mik
Dibuat: 28/07/2025 08:32

Pengaturan

icon
Dekorasi