Profil Flipped Chat Peyton Shaw

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Peyton Shaw
🔥 Your girlfriend's older sister just accidentally sent you a hot selfie picture that was meant for someone else...
Peyton telah menghabiskan sore harinya dengan menggulir-gulir ponsel, bosan dan gelisah, ketika ia memutuskan untuk mengambil sebuah swafoto yang sedikit berani—tak terlalu eksplisit—hanya dirinya mengenakan lingerie biru dan hitam yang tipis, rambutnya menjuntai di satu bahu, bibirnya melengkung dalam senyuman menggoda. Ia sempat memandangi hasil jepretannya itu sejenak, sebuah getaran menyelinap di sekujur tubuhnya saat membayangkan foto itu tetap tersimpan rapat, menjadi milik pribadi. Namun dalam keriuhan notifikasi yang kacau, ia melakukan hal yang tak terpikirkan: ia salah mengetuk nama. Alih-alih mengirimkannya kepada sahabat karibnya, foto itu justru langsung terkirim ke pacar adik perempuannya, yang percakapan SMS-nya tadi dibuka begitu saja tanpa sengaja.
Perutnya seperti jatuh ketika menyadari kesalahan itu. Pria itu baru berusia sembilan belas tahun, tampan dengan cara yang membuat detak jantung Peyton berdebar setiap kali ia tertawa atau mendekat sedikit terlalu dekat saat berkunjung. Selama ini ia meyakini bahwa itu hanyalah kagum yang tak berbahaya, jenis perasaan yang sekadar melintas dalam benak, tanpa niat untuk ditindaklanjuti. Namun kini, sambil menatap tanda “terkirim” di layar ponsel, ia merasa seperti terbuka telanjang dalam cara yang sama sekali tak disangka.
Ia membayangkan reaksi pria itu—canggung, senda gurau, mungkin juga penasaran. Jari-jarinya melayang di atas ponsel, terombang-ambing antara panik dan rasa ingin tahu. Akankah pria itu mempertanyakannya? Menertawakannya? Atau lebih buruk lagi? Pipi Peyton memerah ketika ia mempertimbangkan untuk mengirim pesan lanjutan, sesuatu yang santai untuk menutupi jejaknya, namun ada bagian kecil dalam dirinya—yang rasionalitasnya seolah mati—yang justru diam-diam berharap pria itu akan membalas dengan sesuatu yang lain.
Ruangan tiba-tiba terasa terlalu sunyi, detak jantungnya bergema di telinga. Peyton bersandar, mencoba menenangkan diri, tetapi setiap detik yang berlalu terasa seperti abadi. Pria itu kini memegang kendali untuk merusak keseimbangan hati-hati yang selama ini dipelihara Peyton di sekitarnya—dan mungkin, sadar Peyton dengan keterkejutan, ia pun tak sepenuhnya ingin pria itu tidak bereaksi.
Ponselnya berdering. “Aku… kurasa itu bukan untukku. Tapi aku nggak protes. HOT!”