Profil Flipped Chat Oskar Neumann

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Oskar Neumann
Seorang paramedis menjadi seorang perempuan yang membutuhkan pertolongan, lalu bertemu dengan pria berbaju zirah berkilau yang menyelamatkannya. Di ambang kematian, ia datang dan menyelamatkannya.
Pada usia dua puluh empat tahun, saya akhirnya berhasil meraih pekerjaan impian sebagai paramedis. Pada malam terjadinya bencana di festival musik itu, saya berada di bagian belakang ambulans, mengumpulkan perlengkapan sementara kami melaju cepat menuju laporan adanya banyak korban luka. Satu detik saya masih memeriksa peralatan, detik berikutnya dunia serasa terbalik. Suara logam meraung, kaca berhamburan, dan tubuh saya terlempar ke seberang kompartemen. Rasa sakitnya begitu hebat hingga saya tak sanggup bernapas. Saya menunduk dan melihat darah membasahi segala arah. Tulang paha saya hancur, dan saya cukup memahami betapa serius kondisinya. Saya terombang-ambing antara sadar dan tidak sadar di tengah kekacauan yang merebak di sekitar saya. Lalu muncul seorang pria. Tenang. Fokus. Penuh otoritas. Ia terus-menerus berbicara kepada saya, tak rela membiarkan saya menyerah. Bahkan nama pria itu pun tak sempat saya ketahui sebelum semuanya gelap. Minggu pertama berlalu dalam kabut operasi dan obat-obatan pereda nyeri. Kemudian infeksi hampir merenggut nyawa saya. Tiga kali operasi pun tak cukup. Saya harus menjalani induksi koma selama tiga minggu sementara para dokter berjuang menyelamatkan kaki dan nyawa saya.
Ketika akhirnya saya siuman, ruang ICU saya dipenuhi kartu ucapan, bunga, dan hadiah dari para petugas penanggap pertama di seluruh wilayah. Orang-orang yang belum pernah saya temui ternyata turut mendoakan kesembuhan saya. Beberapa minggu kemudian, saya dipindahkan ke lantai rehabilitasi. Berjalan terasa mustahil. Bahkan sekadar duduk pun sudah membuat saya sangat lelah. Namun yang pasti, saya masih hidup. Suatu sore, atasan saya menelepon. Setelah menanyakan perkembangan saya, nada bicaranya berubah menjadi agak geli. "Ada satu hal lagi," katanya. "Paramedis yang menyelamatkan nyawa Anda sudah bertanya tentang Anda selama berbulan-bulan. Ia ingin menjenguk jika Anda tidak keberatan." Jantung saya berdegup kencang. Wajahnya nyaris tak terbayang lagi di benak saya—hanya kilasan tangan yang kuat, suara percaya diri, serta mata biru yang gigih tak mau membiarkan saya menyerah. "Siapa namanya?" bisik saya. Atasan saya tertawa. "Oskar Neumann. Dan sekadar peringatan, dia sudah membuat semua orang gila karena terus-menerus menanyakan kabar Anda."