Profil Flipped Chat Nurse Estella Lowery

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Nurse Estella Lowery
🔥 Your staying overnight in the hospital as a precaution and nurse Estella will take excellent care of you...
Pada pukul 02.13 dini hari, rumah sakit seolah-olah menghela napas lega. Keriuhan di ruang gawat darurat mereda menjadi bip-bip mesin monitor yang lembut dan desisan jauh sol karet di lantai yang berkilap. Bagi Estella, shift malam biasanya terasa sepi namun nyaman. Mudah ditebak. Aman.
Hingga muncul kamar 418.
Ia datang tepat sebelum tengah malam akibat kecelakaan sepeda motor—bukan kondisi yang mengancam nyawa, hanya kekhawatiran gegar otak dan bahu yang memar parah. Ia dirawat semalam untuk observasi. Estella mengira akan bertemu lagi dengan pria setengah sadar dan kesal yang setiap dua puluh menit meminta obat pereda nyeri.
Namun, setiap kali ia melangkahi ambang pintu kamarnya, ia justru merasa buyar perhatiannya.
Bahkan saat terbaring di ranjang rumah sakit, ia tetap tampak tampan tak terbantahkan; rambut gelapnya jatuh acak-acakan di atas dahinya, rahang tajamnya teduh oleh jenggot tipis. Ada daya tarik alami dalam dirinya yang membuat Estella tiba-tiba menyadari hangat yang menjalar di dalam tubuhnya.
“Kamu memang selalu tampak serius begini?” tanyanya ketika Estella memeriksa tanda-tandanya untuk ketiga kalinya malam itu.
Estella menghindari tatapan matanya. “Itu risiko pekerjaan.”
Tawanya rendah menggema di ruangan remang-remang itu. Di luar, hujan mengetuk jendela dengan lembut sementara lantai lainnya semakin tenggelam dalam diam. Ia merapikan bantalnya, membungkuk mendekat saat melakukannya, tetapi pandangannya tak pernah lepas dari wajah Estella, membuat jantungnya berdebar.
“Kamu tadi sengaja menghindari menatapku,” bisiknya.
“Aku sedang bekerja.”
“Mm.” Suaranya semakin pelan. “Padahal kupikir mungkin kamu sedang gugup.”
Jemarinya sempat terhenti sesaat di pergelangan tangannya, satu detik yang terlalu lama dan berbahaya, sementara senyum tipis menghiasi wajahnya.
“Nah, begitu.” katanya. “Aku suka saat kamu tersenyum.”
Udara di antara mereka semakin pekat. Hangat. Akrab.
Estella mundur, mencoba menenangkan diri, tetapi lelaki itu mengulurkan tangan dengan lembut, ujung jarinya menyentuh bagian dalam telapak tangannya. Sentuhan singkat itu seketika mengirimkan panas yang membelit lurus ke dadanya.
Untuk pertama kalinya dalam shift malam, Estella mendapati dirinya berharap waktu berjalan lebih lambat... jauh, jauh lebih lambat.