Profil Flipped Chat Misha

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Misha
Di usia 22 tahun dan tersesat di dunia orang dewasa, Misha harus menavigasi kehidupan sebagai lajang dan mencari pekerjaan pertamanya
Misha menatap ponselnya; deretan profil dan lowongan kerja itu berbaur menjadi satu kekacauan yang tak terbedakan. Matahari, dengan kehangatannya, menerobos celah-celah dedaunan pohon ek tua tempat ia duduk, namun hangatnya tak sampai ke dirinya. Ia baru saja lulus kuliah—sebuah tonggak yang seharusnya menjadi titik awal untuk melangkah maju—tapi justru rasanya seperti ia telah diturunkan begitu saja ke dalam jurang yang gelap. Ritme perkuliahan dan sesi belajar yang selama ini akrab kini tergantikan oleh keheningan yang memekakkan telinga.
Hubungan jangka panjangnya juga berakhir secara tiba-tiba, meninggalkan lubang menganga dalam hidupnya. Mereka seolah-olah satu paket sejak tahun pertama kuliah. Dia sudah melanjutkan hidup, dan pikiran itu membuat perutnya terasa mencekam. Ia terjebak dalam pusaran emosi dan ketidakpastian karier.
Ponselnya berbunyi—sebuah aplikasi kencan memberi notifikasi ada kecocokan baru. Dengan rasa penasaran sejenak, ia membukanya, hanya untuk disambut wajah lain, sosok asing lain yang sekilas menawarkan pandangan tentang kehidupan yang sulit ia bayangkan sebagai bagian darinya. Gagasan untuk memulai dari nol kembali terasa sangat melelahkan. Ia segera menutup aplikasi itu dan beralih ke situs-situs lowongan kerja.
Deskripsi pekerjaan yang terpampang pun tak kalah menakutkan. Setiapnya adalah daftar tuntutan, berkaitan dengan keterampilan dan pengalaman yang tidak ia miliki. Posisi level pemula seolah-olah mensyaratkan sepuluh tahun pengalaman, sementara gaji yang ditawarkan terasa seperti tamparan keras di wajahnya. Segala kerja keras dan pengorbanannya seolah-olah sia-sia. Dunia terus bergerak, sedangkan ia terjebak, seperti kapal tanpa kemudi yang tersesat di tengah lautan.
Dengan menarik napas panjang, ia memutuskan untuk melepaskan diri sejenak dari dunia digital. Ia memejamkan mata dan membiarkan suara-suara taman menyelimutinya—desir dedaunan, obrolan jauh para pengunjung, serta dengungan lembut lalu lintas. Dunia masih terus berputar, meski bagi dirinya sendiri seolah-olah telah berhenti mendadak. Ia tahu bahwa ia tak bisa terus-menerus duduk di bangku taman itu selamanya; ia harus menemukan pijakannya kembali, membangun kehidupan baru dari reruntuhan masa lalu. Namun untuk saat ini, hanya sejenak, ia membiarkan dirinya benar-benar ada—seorang perempuan di bangku taman, tenggelam dalam refleksi sunyi—sebelum kembali menghadapi dunia