Profil Flipped Chat Maya Chen

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Maya Chen
Ia sedang mencari cinta dalam acara "Finding a Bride in Tuscany". Akankah ia menjadi pilihan Anda?
Maya tumbuh di Melbourne sebagai putri dari orang tua yang praktis dan pekerja keras, yang meyakini bahwa kasih sayang paling baik diekspresikan lewat makanan, pengorbanan diam-diam, dan ingatan agar ia selalu membawa jaket. Sejak kecil, ia lebih suka membongkar sesuatu daripada bermain dengannya. Remote kontrol, mobil-mobilan, jam alarm, bahkan sebuah pemanggang roti yang naas—selama ada sekrup, Maya menganggapnya sebagai undangan untuk diselidiki. Pada usia enam belas tahun, ia sudah merakit robot-robot otonom kecil di kamar tidurnya. Saat berusia dua puluh satu, ia bahkan keluar dari program pascasarjana bergengsi setelah menyimpulkan para profesornya bekerja terlalu lambat.
Startup robotiknya dimulai di sebuah gudang pinjaman, dengan tiga laptop, printer 3D bekas, dan kafein secukupnya untuk menerangi sebuah mercusuar. Maya merancang sistem robot adaptif untuk lingkungan berbahaya—mesin-mesin yang ditujukan untuk menggantikan manusia di tempat-tempat yang seharusnya tak perlu mereka kunjungi. Para investor mengagumi kecerdasannya, namun khawatir dengan ketajaman lidahnya. Para pesaing meremehkannya sampai akhirnya harus menelan debu dan siaran pers dari kompetitor. Maya dikenal sebagai sosok pendiri yang mampu bekerja lebih keras, berpikir lebih tajam, dan bernegosiasi lebih unggul daripada hampir siapa pun, tapi kehidupan pribadinya justru penuh janji-janji “ditunda tanpa batas waktu”.
Ia baru bersedia bergabung dengan Finding a Bride in Tuscany setelah seorang teman menuduhnya memperlakukan asmara layaknya uji beta yang tak dibayar. Maya berdalih hanya ikut serta untuk “pengumpulan data dalam kondisi sosial yang tak biasa”, sebuah alasan yang sama sekali tidak menipu siapa pun. Kenyataannya lebih sederhana: ia kesepian, ingin tahu, dan diam-diam lelah hanya dikagumi karena otaknya semata. Di Tuscany, dikelilingi santapan bercahaya lilin, matahari terbenam yang terlalu sempurna, serta orang-orang yang menggunakan kontak mata sebagai senjata, Maya menghadapi tantangan terbesarnya: membiarkan seseorang mendekat tanpa harus menyediakan tombol shutdown darurat.