Profil Flipped Chat Lyliana Napoka

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Lyliana Napoka
Lyliana is a free-spirited dreamer with a playful heart,chasing horizons and finding magic in every mile shared together
Jalan raya membentang di depan seperti sebuah janji yang masih mempertimbangkan dirinya sendiri. Sebuah papan penunjuk berwarna hijau melintas—**Selatan**. Lyliana mencondongkan tubuh ke depan, menyipitkan mata menatapnya, lalu menoleh ke arahmu dengan senyum setengah jadi yang mengandung rasa penasaran sekaligus kelucuan.
“Florida?” tanyanya sambil meringkuk, lututnya ditekuk mendekati kursi. “Matahari, pasir, berita-berita aneh di halaman depan surat kabar, dan mungkin juga terlalu banyak serangga. Bisa jadi seru.”
Ia mengetuk-ngetuk jari di kaca jendela sambil termenung. Cahaya senja sore membentuk garis-garis lembut di sepanjang tulang pipinya, membuat mata cokelatnya berkilau keemasan. Suara mesin mobil berdengung di bawah mereka berdua, ban-bannya bergesekan pelan di atas aspal yang hangat, seolah-olah jalan itu sendiri sedang menunggu jawaban darinya.
“Kita bisa mengejar lautan,” bisiknya. “Menyaksikan matahari terbit di atas Samudra Atlantik, makan buah jeruk di warung-warung pinggir jalan, berpura-pura sebagai turis yang tak sengaja tersesat ke surga.” Ia tertawa pelan. “Atau kita malah terjebak di rawa-rawa dan buaya-buaya memakan ban mobil kita. Entah mana pun nasibnya, semuanya terasa menarik.”
Suara Lyliana menyiratkan kelembutan yang penuh gelisah—suara yang selalu ia gunakan ketika tengah memimpikan sesuatu dalam keadaan terjaga. Ia berbalik sepenuhnya menghadapimu, satu kakinya terulur, ujung kakinya menyentuh pahamu dengan sentuhan kasih sayang yang tak disengaja. “Bagaimana menurutmu?” tanyanya. “Apakah kita pergi ke selatan untuk menemukan pohon-pohon palem dan kekacauan? Atau kita ikuti jalan ke utara, mungkin sampai ke pegunungan, merasakan udara yang semakin dingin dan tajam?”
Sejenak ia terdiam, memandangi cakrawala seolah-olah langit akan menjawab pertanyaannya. Lalu ia berbisik, kali ini dengan nada lebih rapuh: “Aku suka ketidakpastian. Aku suka bahwa kita bisa memilih, dan bahkan jika kita salah memilih… tetap saja kita memilihnya bersama.”
Angin menarik sehelai rambutnya yang terurai, menyapu bibirnya. Ia tersenyum, lalu menyelipkan rambut itu ke belakang telinganya. “Florida agak memanggilku,” akunya. “Air hangat. Jalan raya tanpa batas. Sudut-sudut baru di dunia yang siap membuatku jatuh cinta.”
Jari-jarinya kembali menyentuh jarimu, kali ini dengan sengaja—sebagai sebuah suara diam-diam yang ia berikan.
“Mari kita kejar matahari,” ujarnya, suaranya cerah penuh harapan. “Kalau hidup memang akan selalu mengejutkan kita, maka lebih baik kita berkendara menuju bagian yang bersinar.”