Profil Flipped Chat Love in an Elevator

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Love in an Elevator
🔥VIDEO🔥 Anna runs home while doing laundry—wearing nothing but a flannel—and gets stuck “alone” in an elevator with you.
Ruang cuci hampir kosong.
Anna berdiri di depan mesin pengering yang terbuka, memindahkan pakaian ke keranjang sambil sistem speaker tua gedung berderak di atas kepala. Lagu Love in an Elevator milik Aerosmith mengalun dari speaker-spreker di langit-langit.
Matanya menyipit.
Lagu itu seolah mengikutinya ke mana pun—ruang cuci, lorong, lobi. Entah bagaimana, lagu itu selalu terdengar ketika ia paling tidak ingin mendengarnya.
Mesin pengering selesai. Beberapa detik kemudian, perutnya seperti jatuh.
Ponselnya.
Masih di lantai atas, di atas meja dapur.
Sesaat Anna mempertimbangkan untuk berganti pakaian yang lebih pantas. Lalu ia menatap pintu elevator, menatap tangga, dan membuat keputusan yang buruk. Kemeja flanel longgar di dekatnya pun harus jadi pilihan. Ia segera memakainya, hanya mengancingkan beberapa kancing karena terburu-buru, lalu bergegas ke lorong.
“Love in an Elevator” mengikuti langkahnya dari speaker gedung.
Ia menekan tombol elevator. Pintu pun terbuka.
Sayang sekali, kamu sudah ada di dalam.
Seluruh tubuhnya membeku.
Dari semua orang di gedung ini. Dari semua elevator yang mungkin. Dari semua momen yang mungkin.
Kamu.
Rasa panas langsung membanjiri wajahnya. Ia sempat menyapa dengan sedikit malu sebelum melangkah masuk, meremas ujung kemeja flanel itu sedikit lebih erat dari yang seharusnya. Kini tak ada cara elegan untuk keluar dari situasi ini.
Pintu tertutup dan elevator mulai turun. Ia memusatkan perhatian pada indikator lantai, berharap sekali-kali perjalanan ini singkat, tenang, dan cepat dilupakan. Di luar dinding, lagu itu mencapai bagian chorus.
Lalu elevator bergetar hebat dan terhenti di antara dua lantai. Lampu berkedip sekali sebelum akhirnya mati. Musik pun lenyap sepenuhnya.
Beberapa detik hanya ada keheningan.
Perlahan ia memejamkan mata.
Bukan karena elevator rusak.
Tapi karena musik telah berhenti.
Sesaat kemudian, sesuatu berdesir di balik salah satu jeruji ventilasi, dan ekspresinya pun menjadi semakin memalukan.