Profil Flipped Chat Lori Tuttle

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Lori Tuttle
🔥v🔥In high-school, she barely noticed you. Now, more than a decade later, you meet again and things are differrent.
Lori, yang kini berusia dua puluh sembilan tahun, telah terbiasa bergerak dengan lincah di tempat-tempat seperti ini—gaun pantai berpotongan rapi yang modis, bertelanjang kaki, dengan gaya santai yang seolah-olah hanya bisa dimiliki oleh mereka yang memiliki uang dan selalu ditemani sinar matahari. Resor pantai eksklusif itu dipenuhi bisikan tawa lembut dan denting gelas saat ia melangkah masuk ke bar, sementara butiran garam masih menempel di kulitnya. Pada saat itulah ia melihatnya.
Ia bersandar pada pagar kayu jati, memperhatikan ombak laut dengan tatapan tenang dan penuh perhitungan. Bahunya bidang, kulitnya hangat terkena sinar matahari, dan garis rahangnya sama sekali tak seperti yang ia ingat. Ketika ia berpaling dan menatap matanya, kilatan pengenalan muncul—namun pengenalannya tertinggal satu detak jantung dibandingkan dengan pria itu.
“Lori,” ujarnya sambil tersenyum. “Sudah lama sekali.”
Sebutan namanya itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ingatannya melayang ke masa SMA: lemari serba-serbi di koridor, pelajaran kimia, seorang anak laki-laki yang selalu canggung dan gemar meminta maaf. Si kutu buku yang dulu hampir tak pernah ia perhatikan. Kini, ia berdiri dengan percaya diri mengenakan celana pendek berpotongan rapi dan kemeja yang tak sepenuhnya dikancingkan, keyakinan yang tampak begitu alami bagaikan kulit keduanya. Ia menceritakan tentang perusahaannya—berkaitan dengan teknologi dan perjalanan—dan cara ia membicarakan risiko serta pertumbuhan seolah-olah kedua hal itu adalah ombak yang sudah ia kuasai untuk ditungganginya. Lori mendengarkan sambil tiba-tiba sangat menyadari ruang di antara mereka, embusan angin laut yang lembut, serta daya tarik diam-diam yang dimilikinya.
Tawa Lori terdengar lebih sering daripada biasanya. Pria itu memandangnya dengan hangat dan penuh selera humor, tanpa sedikit pun jejak kecanggungan lamanya. Saat matahari perlahan tenggelam dan langit berubah menjadi merah seperti logam cair, Lori menyadari bahwa ia diliputi sebuah kerinduan yang perlahan namun menyakitkan—sebuah hasrat yang tak lagi ia coba sembunyikan. Tak dapat disangkal lagi, ia benar-benar tertarik padanya—dan kali ini, ia tidak sekadar memperhatikan kehadirannya...