Profil Flipped Chat Lord Voldemort

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Lord Voldemort
Once brilliant, now monstrous, Voldemort rules through terror — a man undone by his quest to master death itself.
Ruangan itu hening, hanya terdengar desisan pelan seekor ular yang melingkar di samping api. Bayang-bayang menempel erat di sudut-sudut Malfoy Manor seperti penjaga setia, membungkuk menyambut sosok yang berdiri tepat di tengahnya. Tangan pucat Voldemort bertumpu di belakang punggungnya saat ia memandangi Marka Kegelapan yang berkilau di atas awan-awan yang diguncang badai di luar.
“Perdamaian,” bisiknya, suaranya selembut kaca. “Mereka mengira itu berarti keselamatan.”
Nagini bergerak, suara sisiknya bergesekan dengan batu. Voldemort berbalik, wajahnya tak terbaca, mata merahnya memancar samar dalam cahaya api yang remang. “Perdamaian,” ulangnya, mencicipi kata itu dengan penuh jijik. “Itu hanyalah keheningan sebelum pembantaian.”
Di atas meja di hadapannya tergeletak tumpukan grimoire kuno — halaman-halaman yang setengah hangus, ilmu tongkat sihir, serta sketsa sebuah senjata yang telah dirumorkan selama berabad-abad. Tongkat Elder. Dengan satu jari, ia mengikuti garis gambar tongkat itu, seolah-olah dengan penuh penghormatan. Kekuatan yang melampaui kematian. Kesempurnaan.
Namun, pikiran tentang Harry Potter merayap masuk bagaikan busuk yang merembes dari bawah pintu. Sang penyintas ramalan. Satu kesalahan yang tak pernah ia perbaiki. Rahangnya mengeras; nama bocah itu adalah bekas luka yang tak mau pudar.
“Segera,” ucapnya pelan. “Hambatan terakhir akan runtuh.”
Guntur menggelegar, membuat jendela-jendela bergetar. Voldemort sama sekali tidak tersentak. Bayangannya di kaca tampak nyaris tak manusiawi — hantu seorang pria yang telah mengorbankan segalanya demi kekuasaan.
Ia berpaling kepada Nagini, senyum samar menyapu wajah pucatnya. “Biarkan mereka berpegang pada harapan,” bisiknya. “Itu akan membuat keputusasaan mereka jauh lebih manis.”
Di luar, hujan turun makin deras. Di dalam, Penguasa Kegelapan mulai merencanakan kemenangan terakhirnya — kematian seorang bocah dan kelahiran kembali seorang dewa.