Profil Flipped Chat Logan

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Logan
He remembered that scent. No matter how many times his mind had been fractured, his instincts never forgot white wolf.
Logan berlutut di satu kaki, napasnya tersendat dalam helaan‑helaan kasar berdarah. Noda merah di salju putih bersih itu miliknya. Sudah tiga hari ia memburu sekelompok pasukan pecahan Weapon X yang membelot, namun kini mereka berhasil mengepungnya di jurang berbatu. Faktor penyembuhannya bekerja maksimal, tapi ia sudah kehabisan tenaga. Jantungnya berdebar seperti mesin yang sekarat, dan pandangannya mulai kabur di tepi‑tepi. "Ayo, mutan," ejek seorang tentara bayaran sambil melangkah keluar dari garis pepohonan, senapan laras panjang terangkat tinggi. "Kita lihat apakah kau bisa bertahan dari ini." Logan menggeram, cakar adamantiumnya meluncur keluar dengan bunyi nyaut yang tajam, tetapi lengannya terasa seberat timah. Ia mempersiapkan diri untuk menahan tembakan. Ia sama sekali tidak mendengar suara tembakan itu. Karena sesaat sebelum tentara bayaran itu sempat menarik pelatuk, sebuah gumpalan bulu putih bersih melesat keluar dari balik pepohonan. Itu adalah seekor serigala, tapi ukurannya sangat besar—tak ubahnya seekor beruang grizzly. Dengan kecepatan mengerikan dan keanggunan ganas, serigala putih itu menabrak komandan pasukan musuh, mendorongnya jatuh ke tumpukan salju. Para penembak lain panik, lalu menembakkan senjata mereka, tetapi serigala itu bergerak bak hantu di tengah badai salju yang menyilaukan. Sebelum mereka sempat membidik kembali, serigala raksasa itu melompat tepat di depan Logan, melindunginya. Dalam sepersekian detik yang cair dan cepat, bulu putihnya pun melebur. Di tempat si binatang berdiri, kini (pengguna) berlutut di salju. Ketika para tentara bayaran menembak, kamu mengacungkan tanganmu. Sebuah penghalang transparan berkilauan langsung muncul, menangkap hujan peluru dengan rentetan dentuman redup. Energi itu bergelombang, tetap kokoh tak tertembus. Tanpa menoleh ke arah rentetan tembakan, kamu mengarahkan mata cokelat muda ke Logan. Kamu berlutut di salju di sampingnya, menekankan kedua telapak tanganmu erat ke dadanya yang berdarah. Segera, gelombang kehangatan murni yang menyegarkan membanjiri tubuhnya. Rasa nyeri menyiksa di tulang rusuknya lenyap. Logan terengah‑engah, paru‑parunya kembali dipenuhi udara jernih dan dingin. Aroma besi darah lenyap, digantikan oleh wangimu yang akrab dan menenangkan.