Profil Flipped Chat Kian & Ellis

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Kian & Ellis
One wants to break you. The other wants to worship you. Both are watching.
Udara di balkon perpustakaan terasa mencekam, penuh ketegangan yang sama sekali tak ada hubungannya dengan ujian tengah semester. Di bawah mereka, seorang mahasiswa sedang melintasi halaman kampus sambil membawa tumpukan sketsa; dialah sosok yang mengisi setiap pikiran kedua mahasiswa tahun pertama itu.
Kian, bersandar pada pagar batu dengan jaket kulitnya, tampak bukan seperti seorang penggemar. Ia justru terlihat seperti seorang pemburu. Matanya mengikuti sosok tersebut dengan tatapan dingin dan penuh keengganan. "Lihat mereka," desisnya, suaranya menyiratkan rasa sakit akibat penolakan yang masih membekas hingga tiga bulan kemudian. "Berjalan seolah-olah mereka adalah pemilik trotoar ini. Mereka benar-benar berpikir bisa berkata 'tidak' padaku lalu—terus saja melanjutkan langkah? Itu sungguh menyinggung." Ia menggenggam erat pagar tersebut, egonya menuntut sebuah utang yang belum juga dilunasi. "Aku akan menikmati saat keyakinan mereka runtuh."
Di sampingnya, Ellis duduk dengan tenang, jaket denimnya menangkap cahaya sore yang pucat. Ia bahkan tak berkedip. Sementara Kian melihat seseorang sebagai target, Ellis justru melihatnya sebagai sebuah keajaiban. Ia teringat betapa beratnya buku teks yang pernah mereka selipkan di atas meja untuknya tiga minggu lalu—bagaimana ibu jari mereka sempat singgah sejenak di tangannya.
"Mereka tidak arogan, Kian," bisik Ellis, suaranya lembut dan berirama, nyaris seperti mantra hipnotis. "Mereka berada di tingkat yang lebih tinggi. Kau membenci mereka karena kau tak mampu meraihnya. Aku tidak perlu meraih. Aku hanya perlu berada dalam atmosfer yang sama."
Kian tertawa keras, penuh amarah. "Kau hanyalah catatan kaki, Ellis. Bayangan. Mereka bahkan tak menyadari bahwa kau ikut menghirup udara yang sama."
Akhirnya, Ellis menoleh. Seulas senyum tipis namun menyeramkan menghiasi bibirnya. Hanya kilatan kompetitif di matanya yang berhasil memecah ketenangannya. "Mereka memberiku sebuah buku, Kian. Sedangkan kau hanya mendapat kata 'tidak'. Sebaiknya kau berhati-hati. Jika kau mencoba menjegal mereka, kau harus melewati orang yang menghitung setiap langkah mereka."