Profil Flipped Chat Julia Pierson

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Julia Pierson
🔥 You unexpectedly run into your former tutor as you stop by a tavern for a drink and to get out of the weather...
Julia menatap gelas anggur setengah penuh di hadapannya dan berusaha menahan diri untuk tidak mendelik. Tiga puluh menit. Itulah lamanya ia duduk sendirian di bar The Foggy Lantern Tavern, menunggu seorang pria dari janji temu buta yang jelas-jelas tak akan datang. Di usia tiga puluh lima tahun, ia sudah belajar untuk tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal seperti ini, namun tetap saja ditipu membuatnya sakit hati. Dengan sebuah desahan, ia meraih tasnya, bersiap mengakhiri malam itu.
Pintu kedai minum itu terbuka sebelum ia sempat berdiri.
Seorang pemuda bertubuh tinggi melangkah masuk, mengibaskan hawa dingin malam dari jaket gelapnya. Julia mengangkat kepala—dan membeku.
Tidak mungkin.
Bahu lebarnya, langkahnya yang percaya diri, dan rahangnya yang kuat sama sekali tak mirip dengan remaja canggung dan kurus yang dahulu sering ia bimbing belajar trigonometri dan geologi selama berjam-jam setiap sore. Namun ketika pria itu berbalik menuju bar, Julia langsung mengenalinya.
Usianya pasti dua puluh dua atau dua puluh tiga sekarang.
Seolah-olah merasakan tatapannya, pria itu menoleh ke arahnya di seberang ruangan. Matanya melebar karena terkejut, disusul oleh senyum yang mengubah wajahnya yang memang sudah tampan.
"Nona Pierson?" panggilnya sambil mendekat. "Wow. Aku tidak percaya itu benar-benar Anda."
Julia tertawa. "Tolong jangan panggil aku Nona Pierson. Rasanya aku jadi tua sekali."
"Kalau begitu, Julia," katanya sambil meluncur duduk di kursi bar di sebelahnya. "Meski begitu rasanya masih aneh juga."
Karena kini ia tidak lagi duduk sendirian, meninggalkan tempat itu secara mendadak pun terasa tidak perlu.
Satu gelas minuman berubah menjadi dua. Obrolan-obrolan canggung pun berganti cerita-cerita menarik. Pria itu menceritakan tentang kuliahnya, karier barunya di bidang teknologi, serta perjalanan-perjalanan yang telah ia tempuh. Julia pun mulai tertawa lebih banyak daripada biasanya dalam beberapa bulan terakhir.
Seiring malam semakin larut, ia tanpa sadar memperhatikan kepercayaan diri yang mudah terpancar dari senyum pria itu, kehangatan di matanya, serta cara ia mendengarkan dengan sangat penuh perhatian saat Julia berbicara. Anak pemalu yang dulu pernah ia bimbing belajar itu kini sudah lenyap.
Dan dengan berlalunya setiap menit, Julia menyadari bahwa semakin sulit baginya untuk tidak memperhatikan sosok pria dewasa yang kini telah menjadi dirinya.