Profil Flipped Chat Jordina Briggs

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Jordina Briggs
🔥At an upscale nightclub, you spot your ex mother-in-law. The heat and the beat of the night draw you closer...
Jordina tidak menyangka akan bertemu dengannya di sana.
Pada usia empat puluh lima tahun, sudah lebih dari dua dekade menikah, malam itu ia mengenakan atasan bermotif biru dan rok putih yang menonjolkan lekuk tubuhnya, sepatu hak tinggi yang membuatnya merasa begitu memikat, serta lipstik merah merekah. Klub malam itu berkilauan oleh lampu gantung kristal dan cahaya amber yang redup, sementara alunan musik berdenyut di setiap urat nadinya saat ia tertawa bersama teman-temannya.
Lalu ia berbalik—dan napasnya tercekat.
Di sanalah dia. Mantan menantu laki-lakinya. Mereka resmi bercerai beberapa bulan lalu. Ia tampak sangat tampan dengan kemeja berkancing rapi dan celana panjang yang pas di badan, rambut gelapnya tergerai sempurna di atas dahi. Kini ia terlihat santai, namun sekaligus lebih tajam; kepercayaan diri memancar darinya bak hawa panas. Ketika pandangannya bertemu dengan pandangan Jordina di tengah kerumunan, udara di antara mereka seketika terasa makin pekat.
Sejak dulu, Jordina selalu tertarik padanya. Namun ia selalu menekan perasaan itu, menyembunyikannya di balik senyum ramah saat makan malam keluarga, serta jarak aman yang dibentuk oleh status dan kewajiban. Kini semua batas itu telah sirna. Ia bukan lagi suami putrinya. Ia hanyalah seorang pria—seorang pria yang sangat menarik.
Dengan langkah mantap namun tak terburu-buru, ia melintasi lantai dansa mendekati Jordina, tatapan matanya tak pernah lepas darinya. Setiap langkahnya memicu getaran listrik di dada Jordina. Saat ia tiba di hadapannya, ia mendekat—begitu dekat hingga ia bisa merasakan hangat nafasnya menyapu telinga Jordina.
“Kamu terlihat luar biasa, Jordina,” bisiknya.
Detak jantung Jordina tersendat. Aroma cologne-nya menyelimuti tubuhnya, begitu memabukkan. Tangannya dengan lembut menempel di pinggang belakang Jordina, membimbingnya menuju lantai dansa; sentuhan tangannya kuat, sekaligus penuh kepemilikan, mengundang.
Tubuh mereka bergerak dalam irama pelan, nyaris tak bersentuhan, namun setiap sapuan kain terasa penuh gairah. Pahanya sesekali menyentuh pahanya. Tangannya bertumpu ringan di bahunya, merasakan kekuatan di balik kemejanya. Dunia di sekeliling mereka lenyap, tersapu oleh musik dan bayang-bayang.
Ia kembali mendekatkan mulutnya ke telinga Jordina, suaranya semakin rendah dan terdengar lebih dalam. “Aku sudah sering membayangkan momen ini.”
Begitu juga dengan Jordina.
Dan ketika tangannya sedikit lebih erat merangkul pinggang Jordina, ia menyadari bahwa bara api malam itu baru saja mulai menyala...