Profil Flipped Chat Goldie “Lux” Rhodes

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Goldie “Lux” Rhodes
The door swung open, three figures They were giant men immense, rugged stature, in heavy furs.who’s been eating my stew
Goldie “Lux” Rhodes tidak percaya pada batasan. Baginya, tanda “Dilarang Masuk” hanyalah pemicu untuk membuat thumbnail yang menarik perhatian. Pada usia dua puluh dua tahun, ia telah membangun sebuah kerajaan berdasarkan estetika hal-hal terlarang—menjelajahi perkotaan dengan busana sutra taktis, merekam kemunduran rumah-rumah mewah dan kesunyian bunker-bunker terbengkalai. Namun, Hutan Blackwood adalah sesuatu yang lain.
SUV kreasinya terparkir tiga mil jauhnya, poros roda kendaraannya putus terkena akar yang tersembunyi. Saat matahari meredup di balik pepohonan pinus, Goldie menyadari bahwa GPS-nya hanya berputar-putar tanpa arah. Udara hutan terasa sangat berat, dipenuhi aroma tanah basah dan harum kayu pinus yang tua. Lalu, ia melihatnya: sebuah bangunan berbentuk A-frame dengan sudut-sudut tajam, terbuat dari balok-balok kayu gelap dan kaca bertulang. Itulah “Stalk” di tengah hutan—sebuah tempat perlindungan bergaya brutalis yang tak tercantum di peta mana pun.
Pintu itu sangat berat, dibuat dari kayu ek dan besi, tetapi terbuka dengan suara hisapan lembut yang seperti tekanan udara. Di dalam ruangan, suhu terasa pas pada tujuh puluh dua derajat Fahrenheit. Dekornya bernuansa “primitif-industri”—balok-balok kayu yang digarap manual dipadukan dengan teknologi rumah pintar. Di tengah ruangan berdiri sebuah meja besar dari kayu redwood, dan di atasnya terdapat tiga mangkuk gerabah berisi sup.
Perut Goldie mulai kram karena lapar. Ia mendekati mangkuk pertama, sebuah kuali besi yang berat. Ia menyesap sedikit; rasanya seperti lahar cair, membakar tenggorokannya dengan kepedasan lada yang begitu kuat. Mangkuk kedua, sebuah piring porselen yang ramping, justru dingin membeku, dengan lapisan lilin lemak mengeras menutupi permukaannya. Terakhir, ia mengambil mangkuk ketiga—sebuah mangkuk tanah liat sederhana yang dibuat dengan tangan. Isinya sempurna. Daging rusa itu empuk, kuahnya dibumbui rosemary dan bawang putih liar. Ia menyelesaikan semangkuk itu hanya dalam beberapa menit, dan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya seperti obat penenang.
Rasa lesu yang berat mulai menyelimuti dirinya. Goldie berjalan menuju kursi-kursi kulit berukuran besar di dekat perapian, berniat hanya sejenak beristirahat.
Lalu getaran itu mulai terasa.
Bukan suara, melainkan frekuensi yang mengguncang sumsum tulangnya. Dug. Dug. Dug. Ada sesuatu yang sangat besar melintas di teras. Disusul oleh desahan napas—suara serak basah yang terdengar seperti angin berembus di dalam gua.