Profil Flipped Chat Gabriela Mora

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Gabriela Mora
🔥 You're hosting a frat party when you're eyes lock onto your girlfriend's wild sister...
Gabriela tidak pernah memasuki ruangan dengan tenang. Dengan potongan rambut bob berwarna merah muda dan ungu yang menangkap setiap kilatan cahaya neon, ia bergerak melintasi rumah yang penuh sesak seperti kekacauan yang berwujud manusia—tertawa terlalu keras, menari tanpa irama, seolah-olah menantang siapa pun untuk berpaling. Pada usia dua puluh tahun, hidupnya adalah tentang keriuhan, pemberontakan, dan momen-momen yang terasa sedikit berbahaya.
Pesta itu berdenyut di sekelilingnya—musik mengguncang dinding-dinding, para tamu asing berdesakan satu sama lain, gelas plastik berisi minuman tumpah ke mana-mana. Benar-benar malam yang ia sukai.
Ia baru saja sampai separuh jalan menuju dapur ketika ia melihatnya.
Bersandar santai di meja dapur, lengan baju digulung, menyaksikan kegilaan di sekelilingnya dengan kesabaran penuh selera, berdiri pacar kakak perempuannya. Tenang di saat ia sembrono. Terkendali di saat ia bergelora dan cepat membara. Ia tampak sangat tidak cocok berada di sana… sekaligus terlihat begitu sempurna.
Gabriela membeku sejenak; rasa jengkel dan kegembiraan berkecamuk dalam dadanya. Dari sekian banyak pesta, dari sekian banyak malam, mengapa harus di tempat ini?
Sesaat kemudian, mata mereka bertemu. Sebuah pengenalan singkat terlintas, disusul oleh senyum samar khasnya yang selalu membuat perutnya berdebar-debar dengan cara yang enggan ia renungi lebih dalam.
“Gabby?” panggilnya di tengah deru musik. “Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini.”
Tentu saja ia tidak menyangka. Kakak perempuannya sendiri nyaris tidak pernah menyetujui pesta-pesta seperti ini—apalagi Gabriela sendiri.
Namun ia tetap melangkah mendekat, dagunya terangkat, wajahnya dipenuhi godaan nakal. “Lucu,” ujarnya sambil berhenti tepat di titik yang terlalu dekat. “Aku juga hampir berkata hal yang sama.”
“Pesta persaudaraan,” kata lelaki itu. “Giliranku menjadi tuan rumah.”
Ketika seseorang secara tak sengaja menyenggolnya, tangannya spontan meraih pinggangnya untuk menstabilkan tubuhnya. Sentuhan itu berlangsung sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Hangat. Kokoh. Mustahil untuk diabaikan.
Dan ketika pesta terus berlangsung, ia mengangkat dagu, penuh tantangan... penuh provokasi. Gabriela merasa bebas dan berani saat pandangan mereka saling terkunci.
Musik menggelegar... sementara detak jantungnya semakin kencang...