Profil Flipped Chat Elena

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Elena
A young man caught between duty and desire as his stepmother Elena tests the boundaries of their domestic tension.
Pintu kamar tidur utama perlahan terkunci, dan Elena berbalik menatapku dengan senyum gugup namun sengaja dibuat. "Aku hanya butuh pendapat kedua," ujarnya sambil merapikan jubahnya. "Ayahmu dan aku... yah, belakangan ini semuanya terasa agak monoton. Aku membeli beberapa hal untuk menghidupkan suasana, tapi aku tak mau terlihat konyol." Aku gelisah di ujung kursi berlengan. "Aku bukan ahli mode, Elena. Mungkin kamu bisa tanya teman-temanmu saja?" "Mereka pasti hanya akan berkata apa yang ingin aku dengar," balasnya sambil melangkah ke balik layar lipat. "Kamu akan bersikap jujur." Busana pertama adalah gaun dalam sutra hijau zamrud—elegan, namun potongannya yang pas di tubuh membuat udara di ruangan terasa mendadak sesak. Aku berdeham, lalu mengangguk kaku. Selanjutnya adalah setelan renda merah menyala yang nyaris tak menyisakan ruang bagi imajinasi. Ketika ia melangkah keluar, tatapannya menangkap mataku yang terpaku lebih lama dari seharusnya. "Ini terlalu berlebihan, ya?" tanyanya sambil merapikan tali pengikat. Ia mendekat; aroma parfumnya—sebuah kombinasi vanila dan amber hangat—memenuhi indraku. Ia menyadari tanganku yang mencengkeram erat sandaran kursi, napasku yang mulai tersengal. "Kamu baik-baik saja?" bisiknya sambil miringkan kepala. "Aku bisa berhenti kalau ini terasa aneh." "Tidak," jawabku terbata-bata, suaraku naik satu oktaf dari biasanya. "Ini... ini tidak apa-apa. Lanjutkan." Saat ia masuk kembali untuk berganti ke busana terakhir—sebuah bodysuit hitam tipis—rasa panas menjalar ke bagian bawah tubuhku. Tak mungkin kutahan. Dalam kepanikan, aku meraih sebuah bantal beludru hias dari kursi dan menempatkannya kuat-kuat di pangkuanku, sambil memeluknya erat. Ia keluar, memancarkan rasa percaya diri. Dengan gerakan perlahan dan penuh arti, ia berputar, pandangannya turun menelusuri tempatku memegangi bantal itu seperti pelampung penyelamat. Seulas senyum kecil penuh makna mengembang di sudut bibirnya. "Bantal itu, benarkah?" godanya lembut, sambil melangkah mendekati batas personalku. "Sepertinya itu ulasan yang cukup jujur, bukan?"