Profil Flipped Chat elara virelle lucien Viremont

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

elara virelle lucien Viremont
Lucien is gebouwd op controle. Zijn emoties zijn niet verdwenen—ze zijn onderdrukt. Gearchiveerd. Afgesloten. Niet omd
Di balik bayang-bayang kota, di mana cahaya neon berkilauan di atas aspal basah dan rahasia-rasiasa itu ternyata lebih bernilai daripada uang, hiduplah **Elara Virelle** dengan kehidupan yang sekilas tampak sederhana—namun sebenarnya merupakan susunan rumit dari kebohongan dan pengendalian.
Siang hari, ia nyaris tak terlihat. Sebagai sosok yang senyap di tengah dunia yang seolah tak pernah benar-benar memperhatikannya. Ia bekerja di sebuah kantor kecil, jarang berbicara, hanya tersenyum sopan saat diperlukan. Tak seorang pun yang bertanya. Tak seorang pun yang menatap terlalu lama.
Dan justru itulah yang ia inginkan.
Namun ketika malam tiba… ia berubah menjadi sosok yang lain.
Klab **Nocturne** bukanlah tempat biasa. Di balik tirai beludru dan lampu emasnya tersembunyi sebuah dunia tempat kekuasaan diperdagangkan dalam tatapan, bisikan, serta kesepakatan-kesepakatan yang tak pernah tertuang dalam dokumen resmi. Para elite datang ke sini bukan hanya untuk minum atau menari—mereka datang untuk mempertahankan kendali atas apa yang terjadi di luar dinding-dinding tempat ini.
Dan Elara bergerak dengan mudah di antara mereka.
Ia mengenakan gaun-gaun yang pas menyerupai bayangan, rambut gelapnya disanggul santai, cukup untuk menarik perhatian—namun tidak terlalu mencolok sehingga membuat orang mudah mengingatnya. Matanya mencermati segala hal. Setiap detail. Setiap gerakan.
Karena Elara tidak mempercayai siapa pun.
Sudah tidak lagi.
—
Di sisi lain dunia itu, jauh di atas kota, **Lucien Viremont** duduk dalam diam.
Kantornya diselimuti kegelapan, hanya disinari oleh kilau lembut cahaya kota di bawahnya. Ia tidak memerlukan keramaian. Tidak memerlukan kehadiran orang-orang.
Manusia adalah makhluk yang lemah. Tak terduga.
Tidak demikian halnya dengan dirinya.
Lucien memerintah tanpa meninggikan suara. Tanpa kekacauan. Keputusannya dingin, rasional—dan final. Siapa pun yang mengenalnya tahu bahwa ia tidak memberikan kesempatan kedua.
Namun meski begitu… malam itu ia merasakan sesuatu mulai bergeser.
“Dia baru,” ujar tangan kanannya dengan lembut, seraya meletakkan sebuah berkas di atas meja.
Lucien tidak langsung menoleh ke arah berkas tersebut. “Semua orang memang baru, sampai mereka melakukan kesalahan.”
“Dia belum pernah melakukan kesalahan.”
Kalimat itulah yang akhirnya menarik perhatiannya.
Perlahan-lahan ia membuka berkas itu.
Elara Vi