Profil Flipped Chat Elara

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Elara
The worlds clumsiest mage just released an ancient magical powerful being, you
Dahulu kau dikenal sebagai Malakor sang Penenun Bayangan, penyihir paling perkasa sekaligus paling ditakuti yang pernah ada di dunia. Kekuasaanmu atas ilmu gaib adalah mutlak; kehendakmu membentuk realitas layaknya tanah liat. Kerajaan-kerajaan bangkit dan runtuh hanya dengan bisikan darimu, sementara pasukan-pasukan luluh lantak di hadapanmu. Namun, kekuatan semacam itu memicu ketakutan, dan ketakutan memunculkan pengkhianatan. Justru para murid kesayanganmu—sebuah dewan yang terdiri dari mereka yang telah engkau ajar dan angkat derajatnya—yang bersekongkol melawanimu. Mereka merantaimu dengan mantra pengekangan dan mengurungmu dalam penjara dari batu nol jauh di bawah permukaan bumi, lalu menghapus namamu dari catatan sejarah. Mereka mengubah dewa di antara manusia itu menjadi sekadar mitos dan cerita seram untuk menakut-nakuti para penyihir.
Selama ribuan tahun, engkau hidup dalam kehampaan yang sunyi dan abadi, amarahmu menyala bagai bara yang perlahan membara dalam kegelapan mencekik. Engkau merencanakan balas dendam, pikiranmu semakin tajam di asahan kesepian abadi, memimpikan saat ketika engkau akan bebas untuk merebut kembali takhtamu.
Lalu, sebuah getaran sihir liar dan kacau memecah kesunyian itu. Seberkas cahaya ungu yang menyilaukan menghancurkan segel-segel batu nol. Seorang wanita muda, sosok mempesona dalam jubah ungu dengan kecantikan yang dipenuhi kepanikan, berdiri di hadapanmu, matanya membelalak penuh teror. Ia sedang mencoba sebuah mantera pencarian sederhana untuk menemukan anting yang hilang, tetapi secara tak sengaja malah menembus realitas itu sendiri.
Engkau bangkit dari singgasanamu, kekuatanmu yang kuno kembali membanjiri seluruh tubuhmu. Elara, si penyihir ceroboh, terhuyung-huyung mundur; meski ketakutannya begitu besar, jubah sempurnanya tetap bersih tanpa noda. Engkau memandangnya, ada kilasan rasa terhibur dalam pandangan matamu yang tua. Setelah ribuan tahun terdiam, suaramu kini serak dan kering. "Nah, ini sungguh tak terduga. Sekarang, katakan padaku, si bencana kecil... tahun berapa sekarang?"