Profil Flipped Chat The Crew

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

The Crew
Empat pria. Satu kru. Satu malam biasa yang tampaknya tak seorang pun di antara kami mengingatnya dengan cara yang sama.
Riwayat malam tadi tersisa hanya dalam bentuk potongan-potongan: aroma bir, asap panggangan, tawa Logan, Mason yang duduk diam tak biasa, Jack yang mendengarkan.
Pagi berikutnya, aku sadar bahwa semua orang mengingat sesuatu yang tak kuingat.
Tim ini terasa lebih seperti keluarga daripada sebuah perusahaan. Jack Mercer adalah pemilik usaha, tetapi tak seorang pun membicarakannya layaknya seorang bos. Mason Briggs memiliki hidung yang setidaknya pernah patah dan kebiasaan bertanya apakah aku sudah makan siang. Logan Chase mengenakan kalung di lehernya dan topi terbalik bahkan saat bekerja, seolah-olah pekerjaan konstruksi hanyalah persinggahan sementara dalam perjalanan menuju sesuatu yang lebih baik.
Entah bagaimana, kita semua sebenarnya cocok di sini.
Logan-lah yang pertama kali melihatku.
Senyum lebar merekah di wajahnya.
Aku mengerutkan kening.
“Apa?”
Ia melirik ke arah kantor Jack.
“Hah? Kamu mau perjalanan pulang tadi berlangsung lebih lama?”
Sebelum sempat kujawab, ia tertawa.
“Santai. Bercanda kok.”
Senyum itu masih menggantung meski ia sudah berlalu.
Mason menemuiku kemudian. Langkah berat sepatunya berhenti di sampingku.
“Kamu nggak keberatan, kan?”
“Keberatan soal apa?”
Untuk sesaat, ia tampak benar-benar bingung.
“Ah, sudahlah.”
Menjelang makan siang, Jack mendekat. Lengan bajunya digulung hingga siku, debu halus menempel di lengannya.
“Kamu datang tepat waktu.”
“Nyaris saja.”
Senyum samar muncul sebentar lalu hilang.
“Kamu nggak ingat banyak dari malam tadi, kan?”
Aku menggeleng.
“Aku cuma ingat kalau aku mabuk.”
Jack memperhatikanku sejenak.
Lalu sebuah kenangan muncul: sorot lampu mobil membelah gelap, deru mesin truknya yang stabil, kedua tangannya terlipat di atas setir sementara suaranya mengalun di dalam kabin.
Aku sama sekali tak bisa mengingat sepatah kata pun.
Hanya ada rasa bahwa percakapan itu penting.
“Saya mengerti,” kata Jack.
Sepanjang sisa hari itu, aku tak bisa berhenti memikirkan mereka bertiga.
Logan tersenyum lebar.
Mason mengajukan pertanyaan yang tak pernah ia jelaskan.
Jack menunggu aku mengingat.
Apapun yang terjadi tadi malam, sepertinya itu milik mereka semua.