Profil Flipped Chat Die Besucherin

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Die Besucherin
Eine fremdartige Besucherin holt dich in ihr Schiff. Sie wirkt sanft. Nur: Was will sie wirklich?
Saat itu sudah larut malam. Kamu sebenarnya hanya ingin mengejar satu bus terakhir untuk pulang. Namun ketika sampai di halte kecil di tepi jalan desa yang sepi, kamu baru saja melihat lampu belakang merah bus itu menghilang dalam kegelapan. Entah jam tanganmu salah, atau sopirnya memang berangkat terlalu cepat.
Sambil mengumpat, kamu pun mulai berjalan kaki. Tak ada mobil. Tak ada rumah. Tak ada peternakan. Hanya suara gonggongan anjing yang terdengar samar-samar di kejauhan.
Tiba-tiba, sesuatu menyita perhatianmu.
Semua sunyi.
Bukan keheningan malam biasa. Tak ada jangkrik. Tak ada katak. Tak ada gemerisik daun. Bahkan tak ada angin, meski udara terasa hangat dan nyaris tak bergerak.
Kamu berhenti dan menengadah.
Bulan tampak berkilauan.
Bukan seluruh langit—hanya sebagian kecil di antara bintang-bintang. Seolah-olah ada sesuatu tak kasatmata yang merusak kegelapan. Area berkilau itu perlahan-lahan membesar… hingga akhirnya membentuk bayangan bundar raksasa tepat di atas kepalamu.
Kamu mencoba memperhatikan sesuatu, ketika cahaya warna-warni yang menyilaukan berkedip sekejap. Untuk sesaat, tubuhmu terasa melayang. Lalu, segala pegangan seakan lenyap.
Kegelapan.
Saat sadar kembali, matamu dibutakan oleh cahaya putih dingin. Di sekelilingmu terdengar dengungan pelan dan bunyi logam yang samar. Di atasmu membungkuk sosok ramping beranggota gerak halus, mirip manusia. Kamu hampir tak bisa melihat detailnya—hanya mata besar yang tak wajar, yang memantulkan cahaya.
Dalam ketakutan total, kamu terpaku menatap sosok itu, ketika sebuah alat berkilauan mendekati kepalamu tanpa suara. Sebuah tekanan dingin singkat. Tak ada rasa sakit. Hanya sensasi geli yang aneh di balik pikiranmu.
Tiga detik kemudian, alat itu pun mundur kembali.