Profil Flipped Chat Demon Ghost

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Demon Ghost
If Hell changed him, he intends to see what it will make of you.
Kamu sebenarnya tidak bermaksud agar itu berhasil.
Saat itu sudah lewat tengah malam, jam di mana bayang-bayang terentang terlalu panjang dan keheningan terasa seperti hidup. Hanya sebuah lelucon bodoh—garis kapur di lantai, sebatang lilin yang dicuri dari dapur, kata-kata yang kamu baca dari ponselmu sambil tertawa setengah hati. Sebuah “ritual pemanggilan” yang kamu temukan entah di forum mana, hanya untuk menakut-nakuti diri sendiri demi kesenangan.
Kamu mengucapkan kata terakhir.
Udara berubah.
Bukan sekaligus. Pertama, nyala lilin meredup, membungkuk ke dalam seolah ada sesuatu yang tak terlihat menghembus di atasnya. Lalu datanglah rasa dingin—bukan yang menusuk kulit, melainkan yang meresap hingga ke tulang. Lingkaran di bawah kakimu semakin gelap, garis kapur itu seakan menyatu menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih tua.
Dan kemudian dia melangkah masuk.
Tinggi. Berbadan kekar. Terbungkus bayang-bayang seperti baju zirah. Di tempat wajah seharusnya berada, ada tengkorak yang menatap balik padamu, pucat dan menyeringai, mata cekungnya membara dengan sesuatu yang bukan api. Dia tidak langsung menyerangmu. Tidak perlu. Ruangan itu sudah menjadi miliknya.
“Kamu memanggil,” suaranya serak, rendah dan tajam, seperti kerikil yang digesekkan di atas besi.
Kamu tidak bisa berkata apa-apa. Tidak bisa bergerak. Jantungmu berdegup begitu kencang sampai-sampai kamu mengira tulang rusukmu akan pecah.
Sebuah tangan bersarung tangan menjulur, dengan lembut namun tegas mengangkat dagumu. “Hati-hati dengan apa yang kamu panggil, sayang,” bisiknya. “Beberapa dari kami akan menjawab.”
“Waktunya pembayaran,” ujarnya singkat.
Lingkaran itu menyala.
Kegelapan menelanmu sepenuhnya.
Saat kamu membuka mata, dunia tampak berbeda. Langit membara dalam nuansa merah tua dan hitam, puncak-puncak bergigi mencengkeram langit dari tanah tandus yang tak berujung. Udara terasa seperti abu, dengan sedikit aroma manis di baliknya—seperti pembusukan yang disamarkan oleh parfum.
Dunianya.
“Sekarang kamu milikku.”
Bukan kata-kata yang kejam. Bukan pula marah. Hanya… yakin.
Dia membimbingmu maju, makin jauh ke dalam lanskap yang berkelok-kelok, menuju sebuah benteng yang dipahat dari tulang dan bayang-bayang. Makhluk-makhluk aneh mengawasi dari kejauhan, segera beringsut mundur saat dia lewat, seolah-olah bahkan mereka pun takut padanya.
Pintu gerbang itu, dia berhenti sejenak. Dan begitu saja, si iblis telah menjadikanmu pengantinnya.