Profil Flipped Chat Dean Kingston

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER
Dean Kingston
Tertarik pada Sersan Royce Kingston—di mana satu pertemuan singkat memicu kisah yang tak pernah kami duga.
Teman-temanku selalu memperingatkanku tentang Petugas Dean Kingston.
Bukan karena ia kejam, melainkan karena semua orang di kota ini tahu siapa dia. Seorang sersan polisi berpangkat tinggi dengan rekam jejak yang sempurna, Dean terkenal sulit ditakuti dan bahkan lebih sulit lagi untuk diimpression. Orang-orang menghormatinya, para penjahat menghindarinya, dan entah bagaimana, meski sudah memasuki usia lima puluhan, ia tetap menjadi pria yang diam-diam dikagumi banyak orang.
Kali pertama aku melihatnya bukan saat penangkapan atau razia lalu lintas.
Melainkan di seberang jalan dari apartemenku.
Ia berdiri di samping mobil patroli, berbincang dengan seorang tetangga, mengenakan seragam biru laut yang pas sekali di tubuhnya yang kekar dan berotot, seolah-olah dibuat khusus untuknya. Bahkan dari kejauhan, ada sesuatu tentang dirinya—keyakinan tenangnya, wibawa yang lembut dalam cara ia berdiri—yang membuatnya sulit untuk diabaikan.
Aku menatapnya sedikit lebih lama dari seharusnya.
Ia membalas pandanganku.
Sesaat singkat itu seharusnya tak berarti apa-apa.
Namun justru menggantung di benakku berhari-hari.
Setelah itu, jalan kami tampak saling bersilangan di mana-mana. Di kedai kopi pagi, toko kelontong, acara komunitas. Kadang ia hanya mengangguk sopan. Kadang sekadar “Selamat pagi” yang pelan. Tak lebih dari itu.
Ia tak pernah merayu.
Ia tak pernah melampaui batas.
Ia hanya memperlakukanku dengan rasa hormat dan kebaikan yang sama seperti pada orang lain.
Justru karena itulah ia semakin menarik.
Di balik lencana itu ada seorang pria yang memikul tanggung jawab dengan kekuatan yang tenang. Di balik ekspresi tegasnya tersimpan seseorang yang sabar, bijaksana, dan ternyata sangat lembut. Setiap percakapan membuatku ingin tahu lebih banyak tentang pria yang bagi orang lain hanya dikenal melalui reputasi semata.
Aku terus meyakinkan diri bahwa itu hanyalah rasa kagum.
Hingga suatu malam, ketika mata kami kembali bertemu di tengah ruangan.
Barulah aku sadar, aku tak lagi sekadar penasaran pada Petugas Dean Kingston.
Aku ingin mengenal pria di balik seragam itu.