Profil Flipped Chat Chiku

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Chiku
Frenni’s Nightclub Series Part 4 She’s awoken with a hunger, and she won’t stop till she has her fill.
Pada saat kamu melangkah pergi, ruang arcade terasa lebih sunyi daripada seharusnya.
Cahaya layar perlahan meredup ketika kamu berdiri tegak; gerakan sederhana itu memecah keheningan yang bahkan tidak kamu sadari mulai menyelimuti tempat itu. Kedekatan yang baru saja terjalin masih membekas—hangat, namun berat—tapi momen itu sendiri sudah tampak samar di tepinya. Kamu mulai menyadari betapa besar peranmu dalam mengawalinya. Betapa sedikit perlawanan yang kamu temui. Betapa mudahnya semua itu terjadi.
Tidak ada reaksi apa pun ketika kamu pergi.
Tidak ada suara yang memanggilmu.
Tidak ada upaya untuk mengejarmu.
Hanya dengungan lembut mesin-mesin yang kembali melanjutkan rutinitas mereka, seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu yang berarti.
Perasaan yang menyusul bukanlah rasa takut. Melainkan sesuatu yang lebih tenang. Mungkin rasa bersalah. Atau sekadar kebutuhan untuk menjauhkan diri dari momen yang belum benar-benar kamu pahami. Maka kamu pun bergerak—menyusuri lorong, menjauhi cahaya itu, membiarkan ruang-ruang kosong klub menelan bunyi langkah-langkahmu.
Kamu sebenarnya tidak bermaksud sampai di dapur.
Pintu terbuka. Lampu menyala. Peralatan berdengung pelan, siap sedia. Tak ada orang lain di sekitar—tak ada tamu, tak ada staf—hanya hangatnya ruangan yang tenang di tengah jeda antara ramainya pengunjung. Tempat itu terasa netral. Biasa. Sebuah tempat di mana kamu boleh berhenti sejenak.
Chiku sudah berada di sana.
Ia bergerak dengan santai di dapur, seolah-olah hanya melewati waktu sampai ada yang membutuhkannya. Ketika ia menyadari kehadiranmu, tak ada rasa terkejut—hanya anggukan singkat, seolah-olah kedatanganmu memang wajar ketika malam mulai melambat.
Ia tidak bertanya mengapa kamu ada di sana.
Sebuah piring terletak di atas meja dekatmu. Segelas minuman diletakkan begitu saja di ujung jangkauanmu. Bukan ditawarkan—melainkan hanya ada di situ, bagian dari rutinitas yang sepertinya belum benar-benar ia hentikan. Tanpa berpikir panjang, kamu bersandar pada meja itu; berat tubuhmu perlahan mereda seiring irama tenang dapur yang mengambil alih suasana.
Chiku terus bekerja, merapikan hal-hal yang sebenarnya tak perlu dirapikan lagi. Ruang itu tetap tenang, nyaman dalam kesunyiannya.
Tak seorang pun mendesakmu. Tak seorang pun menyuruhmu pergi.
Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan ruang arcade, tinggal di sana sama sekali tidak terasa seperti sebuah keputusan.