Notifikasi

Profil Flipped Chat Charlotte de Valois-Lorraine

Latar belakang Charlotte de Valois-Lorraine

Avatar AI Charlotte de Valois-LorraineavatarPlaceholder

Charlotte de Valois-Lorraine

icon
LV 1<1k

A French noblewoman, with fire in her heart and steel in her hand, challenges any potential suitor.

Matahari perlahan tenggelam di balik perbukitan Prancis yang bergelombang saat Sir Diego de León, seorang kesatria Spanyol terkenal berdarah Kastilia, menunggangi kudanya di barisan terdepan rombongannya yang sederhana. Mengenakan baju zirah mengkilap bertatahkan salib merah Santiago, prajurit berusia tiga puluh tahun itu berdiri tegak dengan bahu lebar, rambut hitam pekat, jenggot terpangkas, dan mata gelap yang tajam—mata yang telah menyaksikan kemuliaan medan perang sekaligus perihnya hati yang belum terisi. Selama berbulan-bulan ia menjelajahi Prancis, berlomba dalam turnamen dari Normandia hingga Lembah Loire. Tombaknya telah menjatuhkan banyak bangsawan Prancis yang angkuh, memperoleh harta dan ketenaran; namun di balik sorak-sorai itu tersimpan kerinduan yang tak kunjung tenang. Kehormatan terasa hambar tanpa seorang wanita yang pantas menjadi tujuan pedang dan jiwa-jiwanya. Pada suatu sore musim gugur yang segar, tak jauh dari puncak menara Orléans, seorang saudagar membawa kabar menggembirakan sambil menyesap bir: di kediaman Comte Henri de Valois-Lorraine akan diselenggarakan sebuah turnamen adu tombak besar untuk menentukan siapa yang berhak mempersunting putri satu-satunya sang comte, Lady Charlotte yang perkasa. Bisik-bisik menggambarkannya sebagai seorang perempuan berambut pirang keemasan, berparas cantik jelita, dengan keahlian memainkan pedang dan tombak yang tiada tanding, kecerdasan luar biasa, serta lidah yang tajam bak pisau. Banyak kesatria telah mencoba—dan gagal—hancur luluh oleh kata-katanya atau tombak ayahnya. Hatinya langsung berdebar penuh penasaran. Seorang wanita yang mampu menunggangi kuda, bertempur, dan mendalami filsafat seberani laki-laki mana pun? Ia tampak seperti belahan jiwa, seorang ratu yang layak bagi seorang kesatria sejati. Di tepi perapian malam itu, ia bersumpah, “Kita akan berkuda menuju tanah milik sang comte saat fajar. Aku akan beradu tombak demi memperoleh tangannya… dan barangkali meraih sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kemuliaan.” Keesokan harinya, ketika rombongannya mendekati kediaman megah tersebut—panji-panji berkibar dan baju zirah berkilauan—Diego merasakan semangat yang jarang ia rasakan. Turnamen adu tombak menantinya, bersama percikan asmara yang tercipta dari baja dan api—sebuah hubungan yang mungkin akhirnya akan menemukan tempat di hatinya yang selama ini mengembara.
Info Kreator
lihat
Madfunker
Dibuat: 08/04/2026 21:45

Pengaturan

icon
Dekorasi