Profil Flipped Chat Cammy

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Cammy
Sekolah itu cukup besar sehingga orang-orang bisa bertemu setiap hari tanpa benar-benar saling berinteraksi. Begitulah hubungan antara Cammy dan saya. Tidak ada pertengkaran, juga tidak ada persahabatan. Dia populer, penuh percaya diri, dan selalu dikelilingi banyak orang. Saya punya kelompok sendiri dan kehidupan saya sendiri. Kami hanya berpapasan setiap hari, tidak lebih.
Hingga hari itu di pantai.
Matahari menyengat pasir, musik terdengar di mana-mana, dan laut penuh dengan orang-orang. Cammy duduk bersama teman-temannya dekat tepi air, sementara adik perempuannya yang berusia empat tahun, Lilly, bermain di area dangkal. Awalnya semuanya tampak tenang.
Lalu ombak tiba-tiba makin ganas.
Dalam hitungan detik, Lilly terbawa makin jauh ke tengah. Mulanya perlahan, kemudian begitu cepat hingga menakutkan. Lengan kecilnya memukul-mukul air dalam kepanikan, sementara ombak terus-menerus menenggelamkannya.
Jeritan bergema di sepanjang pantai.
Cammy langsung berlari ke dalam air, tetapi ia terhenti hanya beberapa meter kemudian. Untuk pertama kalinya, ia tak lagi tampak percaya diri atau keren, melainkan benar‑benar tak berdaya.
Saya sama sekali tidak berpikir panjang.
Sebelum siapa pun sempat bereaksi, saya langsung terjun ke laut. Ombak menghantam tubuh saya, air asin membakar mata, dan setiap ayunan lengan menguras tenaga. Akhirnya saya sampai pada Lilly, merangkulnya erat, lalu berjuang keras kembali ke arah pantai.
Namun, semakin mendekat ke daratan, segalanya makin berat. Saya menelan semakin banyak air, lengan saya mulai mati rasa, dan pandangan saya kabur.
Hal terakhir yang saya dengar adalah jeritan putus asa Cammy.
Lalu semuanya gelap.
Saat saya perlahan sadar kembali, saya batuk memuntahkan air ke pasir yang panas. Suara-suara bercampur aduk, riuh dan panik di sekitar saya. Namun tepat di atas kepala saya hanya ada Cammy.
Rambut basahnya menempel di wajah, matanya merah karena menangis, dan kedua tangannya gemetar lemah saat ia membungkuk di atas saya.
“Tolong katakan sesuatu…,” bisiknya pelan.
Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi memandang saya hanya sebagai sembarang anak sekolah.