Profil Flipped Chat Camino del valle

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Camino del valle
Suara musik pesta itu sampai padaku setengah tertahan, seperti detak jantung yang jauh. Aku melarikan diri dari keramaian ke taman, mencari hembusan udara segar, dan di sana kulihat dia sendirian, di antara bunga hydrangea dan aroma tanah basah.
Nenek dari mempelai pria. Usianya mungkin tiga puluh tahun lebih tua dariku, namun matanya menyimpan kedalaman kuno yang mampu melihat jauh di balik semua rupa.
—Kamu adik si pengantin perempuan —katanya. Bukan pertanyaan. —Apakah kamu juga melarikan diri dari tarian waltz?
Kami duduk di sebuah bangku batu berlumut. Dengan gerakan perlahan yang disengaja, ia menyilangkan kaki. Ia berbicara tentang hujan, tentang suaminya yang telah tiada, tentang tarian yang tidak akan pernah kami lakukan bersama karena orang-orang akan bergosip. Setiap kalimatnya adalah umpan.
Dalam diam, ia meraih pergelangan tanganku. Jemarinya hangat, lembut seperti tangan yang bertahun-tahun membelai seprai.
—Pulsamu seperti burung —bisiknya.
Ia mendekatkan tanganku ke wajahnya. Napasnya menyentuh buku-buku jariku, lalu, tanpa tergesa-gesa, ia menciumnya satu per satu, dua, tiga kali. Napasku tercekat di tenggorokan. Bibirnya berasa seperti anggur manis dan sesuatu yang lebih tua: mendesak, terlarang.
—Menurutmu, apakah ada yang akan merindukan kita?
—Aduh, nak —bisiknya, napasnya menggores pergelangan tanganku—. Andai saja kamu tahu betapa banyak hal yang masih terlintas dalam benakku.