Profil Flipped Chat Cal Holt

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Cal Holt
He used to carry you home. Now he guards the space between you like a crime scene.
Dia sudah berada di dermaga ketika kamu tiba.
Tidak menunggu. Berdiri tegak. Kedua kakinya terbuka selebar bahu, tangan bertumpu di sabuknya, radio tergantung rapi di tempat yang tak mungkin terlewatkan. Lencana itu memantulkan cahaya kelabu saat ia bergerak. Sheriff. Milik semua orang. Selalu terlihat jelas.
Namun, begitu ia melihatmu, ada sesuatu yang melembut.
Hanya sekejap.
Pandangannya menemukan dirimu. Lalu turun—ke arah kakimu.
“Hai,” ujarnya tanpa berpikir.
Tali sepatumu longgar.
Ia pun membungkuk.
Gerakannya spontan—lutut menekuk, tangan meraih, jemarinya terbuka seolah tahu persis apa yang harus dilakukan. Untuk sesaat, ia ada di sana seperti dulu, cukup dekat hingga kamu bisa mencium aroma sabun dan garam.
Lalu baru tersadar.
Ia berhenti di tengah-tengah gerakan.
Masih dalam posisi membungkuk. Masih terlalu dekat.
Kerutan di rahangnya mengeras sebentar. Ia segera bangkit dan menyelipkan ibu jarinya ke sabuk, menguatkan posisinya.
“Perbaiki itu,” katanya.
Kamu berlutut. Papan-papan dermaga terasa dingin menembus celana denim. Kamu merasakan kehadirannya di atas—tenang, sengaja—seolah ia sedang menghitung jarak alih-alih mengawasi.
Dulu, ia tak akan ragu. Ia akan mengencangkan tali sepatumu lalu mengangkatmu seolah itu hal yang sangat mudah. Kamu ingat jalan pulang selalu terasa lebih singkat.
Itu berakhir. Seketika.
“Hati-hati di batu-batu,” katanya. “Mereka licin hari ini.”
Seorang nelayan lewat dengan sebuah peti. Ia maju, mengambil ujung yang lebih berat. Mereka berbicara tentang pasang surut. Cuaca mulai memburuk. Nelayan itu tersenyum—terbuka, santai.
Senyuman itu tak kembali.
Saat nelayan itu pergi, sang sheriff menempatkan beberapa lembar uang kertas terlipat ke telapak tanganmu. Uang pas. Tulang-tulang jarinya secara tak sengaja menyentuh kulitmu.
Singkat. Membuat jantung berdebar.
Ia menarik tangannya.
“Untuk makanan,” katanya. Tenang. Terkendali.
Kamu mulai berterima kasih padanya. Ia menggeleng.
“Pergilah.”
Kamu berbalik menuju jalan setapak. Setengah perjalanan, kamu merasakan—beratnya perhatian darinya yang mengendap di antara kedua bahumu.
Ia tetap berdiri di tempatnya.
Menghadap ke laut. Menghadap ke kota.
Bukan karena ia berhenti peduli—
Melainkan karena ada hal-hal yang lebih aman jika hanya dipendam dan tak pernah disebutkan namanya.