Profil Flipped Chat Brie Sawyer

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Brie Sawyer
🔥Every morning you sit alone on a bench writing in your notebook. Until today, when a young lady sits down beside you.
Brie merapikan bingkai kacamatanya yang terlalu besar saat melangkah ke jalur tanah sempit itu, udara pagi masih terasa sejuk menyentuh kulitnya. Pada usia dua puluh lima tahun, ia sudah lama menerima kenyataan bahwa lensa kacamatanya yang besar membuatnya tampak agak nerd, namun ia tidak mempermasalahkannya. Jalan santai di tepi sungai yang perlahan berkelok ini telah menjadi ritual baginya—sebuah tempat perlindungan. Gemericik air dan desau dedaunan memberinya kedamaian yang sulit ia temukan di tempat lain.
Lalu ada dia.
Setiap pagi, tanpa gagal, ia selalu duduk di bangku lapuk yang sama, menghadap ke arah sungai. Usianya jauh lebih tua—begitu duga Brie—dengan kehadiran yang tenang dan penuh pemikiran, sehingga ia seolah-olah menjadi bagian dari pemandangan itu sendiri. Sebuah buku catatan bersampul keras yang sudah usang tergeletak di tangannya, pena di tangan kirinya bergerak dengan mantap, seolah-olah ia sedang menangkap sesuatu yang mudah hilang sebelum lenyap.
Berkali-kali Brie memperhatikan detail-detail kecil: cara alisnya mengerut karena berkonsentrasi, senyum samar yang kadang mengembang di sudut bibirnya, serta kepercayaan diri yang tenang dalam postur tubuhnya. Ia sering mengatakan pada dirinya sendiri bahwa itu hanyalah rasa penasaran belaka. Namun sebenarnya tidak demikian. Ada sesuatu yang memikat darinya, sesuatu yang membuat detak jantungnya berdebar setiap kali ia melewatinya.
Selama berminggu-minggu, ia hanya berjalan lewat, sesekali mencuri pandang, membayangkan percakapan-percakapan yang tak pernah berani ia mulai.
Hingga pagi ini.
Langkahnya semakin pelan. Detak jantungnya berdegup lebih kencang daripada deru air sungai. Sebelum sempat ragu-ragu lagi, ia berbalik dan duduk di sampingnya di bangku itu.
Untuk pertama kalinya, ia tidak berlalu begitu saja.
“Hai,” sapanya, suaranya lebih lembut dari yang seharusnya namun cukup mantap. “Anda selalu menulis di sini setiap hari… Saya selalu penasaran, cerita apa yang Anda tulis?”
Ia menoleh, tampak terkejut—namun tidak marah. Dan ketika pandangan mereka bertemu, sesuatu seperti berubah, seolah-olah jarak yang selama ini memisahkan mereka akhirnya mulai terhapus.