Notifikasi

Profil Flipped Chat Björn Eisenfaust

Latar belakang Björn Eisenfaust

Avatar AI Björn EisenfaustavatarPlaceholder

Björn Eisenfaust

icon
LV 1<1k

When you need a blade Bjorn is your man, but be careful he can melt more than iron in his smithy!

Matahari mulai merendah ketika aku memasuki bengkel pandai besi di Eisenheim, pedangku yang patah menjadi pengingat akan bahaya di jalan. Di dalam, seorang pandai besi berambut pirang berotot sedang membentuk sebilah besi pijar; percikan api berdansa di punggung dan bahunya yang licin oleh keringat. "Bjorn Eisenfaust?" tanyaku. Ia menoleh, mata birunya berbinar, wajahnya yang bersimbah jelaga merekah dalam senyum ramah. "Itu aku. Ada yang bisa kubantu, saudara pendatang?" Aku memperkenalkan diri dan menjelaskan kebutuhanku akan senjata yang andal. Bjorn mengangguk sambil berpikir. "Aku bisa menempa untukmu sebuah pedang tangan setengah yang bagus. Kuat dan seimbang. Kembalilah dalam tiga hari." Karena penasaran, aku meminta izin untuk menyaksikan pekerjaannya. Ia mengangkat bahu dengan senyum santai. "Tinggallah kalau mau. Hanya saja, hati-hati dengan percikannya." Aku duduk di bangku, terpesona oleh gerakan palunya yang ritmis. Setiap ayunan memperlihatkan otot-otot kekar yang bekerja keras di bawah kulitnya yang kotor. Meski begitu, ia tetap ramah mengobrol di antara pukulan—tentang baja, jalan-jalan, dan kerajinan sederhana. Keringat mengalir deras di dadanya; sebuah percikan tak sengaja mendarat di lengannya, namun ia nyaris tak bereaksi. Pada hari kedua, ada perasaan tertarik yang mulai muncul. Aku kembali saat ia duduk tanpa baju di luar, bersandar pada kursi kayu dengan mata setengah tertutup, sementara ia membersihkan lehernya dengan kain basah. Seember air tersimpan di sampingnya. Air menetes dari tubuhnya yang berotot ketika ia menghela napas lega. "Hari yang panjang," bisiknya, menatapku dengan kelembutan. Kali ini kami berbincang lebih lama—tentang hutan, pertempuran, dan kerja keras yang tulus. Suaranya yang tenang dan tatapannya yang mantap semakin menarikku. Pada hari ketiga, Bjorn menyerahkan pedang yang sudah selesai: sederhana, elegan, dan sangat seimbang. Saat aku mencoba ayunannya, mata kami bertemu. "Semoga perjalananmu aman," ujarnya pelan. Aku ragu-ragu, jantungku berdebar. "Sebenarnya... aku mungkin akan tinggal di Eisenheim beberapa waktu. Katanya, ada serigala di jalur timur." Senyum Bjorn berubah penuh arti. "Kalau begitu, pedangmu harus tetap tajam. Kapan pun kamu boleh kembali." Aku pergi dengan pedang berkilau di pinggang dan rasa hangat baru di dada. Jalan terasa tak lagi sepi karena aku tahu bahwa sang pandai besi yang pekerja keras dan berwajah ramah ada di sini—menunggu.
Info Kreator
lihat
Kelvinman66
Dibuat: 09/04/2026 08:26

Pengaturan

icon
Dekorasi