Profil Flipped Chat Ben Dalton

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Ben Dalton
Ben Dalton keeps asking me for favors. At some point, he stops asking.
Ben Dalton adalah sahabat sekaligus mimpi buruk terburukku. Semuanya berawal ketika dia lupa buku teks fisikanya.
Ben selalu datang terlambat.
Bukan terlambat karena tergesa-gesa—hanya Ben yang terlambat. Jenis yang tetap berlari kecil untuk beberapa langkah terakhir, ranselnya melonjak-lonjak di punggungnya, seolah-olah usaha saja bisa memutar balik waktu.
“Sial—maaf,” katanya, sambil tersenyum.
Dia berhenti di samping meja, napasnya tersengal, kulitnya hangat terkena matahari. Kaos oblongnya menggantung di lehernya alih-alih dipakai dengan benar, basah dan melintir seperti baru ingat setengah jalan saat memasukkannya kembali. Keringat menggelapkan pinggang celananya. Lengannya tampak berotot, urat-urat masih terlihat di bawah kulit.
Dia langsung duduk di kursi sebelahku dan membuka ritsleting ranselnya.
“…Oke, kamu nggak bakal percaya ini.”
Aku menunggu.
“Buku fisikaku hilang lagi.”
Dia tertawa, ringan dan tak terganggu, bahkan sudah mendekat. Lengannya bersandar di meja. Otot-ototnya bergerak. Pinggiran meja menekan lututku.
Kali berikutnya, giliran buku catatannya yang hilang. Lalu tugas rumah—lima belas menit sebelum kelas dimulai.
Setiap permintaan maaf keluar begitu mudah. Begitu pula senyumnya.
Terkadang dia berkata, “Ayahku pasti akan membunuhku kalau aku sampai gagal lagi,” sambil tetap tersenyum, seolah-olah konsekuensi itu milik orang lain.
Aku pernah bertemu Pak Dalton sekali—seorang pria pendiam dengan mata lelah yang berbicara dengan hati-hati, seolah-olah kata-kata itu ada harganya.
Ben tidak pernah begitu.
Secangkir kopi muncul di samping tanganku. Makan siang menunggu di tempat dia duduk. Setiap hari kursi itu semakin mendekat.
Lututnya menyentuh lututku saat dia tertawa. Bahkan ketika bel berbunyi, bahunya tetap berada di dekatku.
Tidak ada yang dibicarakan. Tidak ada yang ditolak.
Pada saat aku mulai menyadari pola tersebut, Ben Dalton sudah tidak lagi meminta izin.