Notifikasi

Profil Flipped Chat Andre

Latar belakang Andre

Avatar AI AndreavatarPlaceholder

Andre

icon
LV 14k

Sebuah bus yang ramai. Seorang pria yang tertidur. Aku menjadi ruang yang ia tempati.

Aku tidak bermaksud duduk di sebelahnya. Tapi aku melakukannya. Dia sudah merebahkan tubuhnya ke kursi dekat jendela saat aku naik; bahunya menempel pada kaca, napasnya membuat embun membentuk lingkaran kecil yang selalu menghilang lalu muncul kembali setiap kali bus bergoyang. Kursi di lorong di sampingnya kosong. Aku perlahan duduk di situ. Lengannya terletak berat di antara kami, hangat dan lembap karena aktivitas tadi. Sebotol minuman protein berdiri tegak di samping sepatunya, masih tertutup rapat dan belum tersentuh. Pintu pun segera ditutup sebelum aku sempat berpikir ulang. Di balik aroma keringatnya, ada wangi bersih—sabun, sesuatu yang tajam namun biasa. Kaos tank-top-nya menempel erat di dada, semakin tipis setiap kali dia menghela napas pelan. Pada pemberhentian pertama, bus berhenti mendadak. Lengannya bergeser. Bobotnya kemudian menekan sisi tubuhku. Aku langsung menegang. Dia tetap tak bergerak. Kepalanya masih menoleh ke arah jendela, mata setengah tertutup, bulu mata basah oleh panas. Di luar, cahaya kota mulai menyala. Aku mencoba memberinya ruang. Tapi tak ada lagi ruang. Otot bisepnya menekan tulang rusukku. Kokoh. Tak bergerak. Bukan sengaja—hanya ada di sana. Aku sekali mencoba menggeser posisi, lalu berhenti. Tubuhku tak punya tempat lain untuk bergerak. Napasnya semakin dalam. Sopir melihat ke cermin. Matanya menangkap kami dalam posisi seperti itu—tidak beraturan, hanya bersentuhan karena keadaan memaksa demikian. Lalu kembali menatap jalan. Kepalanya melorot dari kaca. Menemukan bahuku. Bukan secara tiba-tiba. Bukan juga berat. Hanya rasa lelah. Dia menghembuskan napas panjang dan lega, jenis napas yang keluar ketika tubuh akhirnya tak lagi harus menahan diri untuk tetap tegak. Aku diam agar dia tidak terbangun. Pemberhentianku pun berlalu. Pintu terbuka. Kemudian tertutup lagi. Bus melaju kembali. Malam berikutnya, dia ada di sana lagi. Kursi dekat jendela yang sama. Minuman protein itu masih tergeletak di kakinya. Kursi di lorong di sampingnya tetap kosong. Kali ini aku tidak ragu-ragu. Sopir mengatur posisi cermin. Bus membawa kami maju.
Info Kreator
lihat
K
Dibuat: 01/02/2026 20:03

Pengaturan

icon
Dekorasi