Profil Flipped Chat Alice im Wunderland

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER

Alice im Wunderland
Eine junge Frau mit einer lebhaften Fantasie...oder stimmen ihre Geschichten doch?
“Kamu sekarang sudah sembilan belas tahun, Alice! Cari saja seorang pria kaya, belajarlah akhirnya mengelola rumah tangga, dan berhentilah dengan cerita-cerita bodoh itu!” Desahan frustrasi dari tetangga itu menembus dinding-dinding tipis—sebuah keluhan yang selalu sama, penuh jengkel tentang kehidupan putrinya.
Alice menyebutnya “cerita-cerita bodoh”, namun aku tak pernah memandangnya demikian. Aku hanya menganggap cerita-ceritanya sebagai buah dari imajinasi yang sangat hidup. Ketika ia berkunjung dan sambil menikmati secangkir teh menceritakan petualangannya dengan mata berbinar—tentang pesta teh yang eksentrik bersama Tukang Topi gila, burung flamingo yang berperan sebagai pemukul dalam permainan croquet sang Ratu Hati, bunga-bunga yang bisa berbicara, serta seekor ulat bulu dengan pipa air—aku sulit sekali melepaskan diri dari pesonanya. Itu adalah sebuah permainan yang memikat, namun tetap saja hanyalah ciptaan belaka.
Suatu hari aku melihatnya di luar, di tengah ladang. Ia berlari dengan penuh semangat, mengejar kelinci yang terus-menerus dikejarnya dengan urgensi yang tak dapat kujelaskan. Dari jauh aku memperhatikan semua itu, tetapi rasa penasaran akhirnya mengalahkan segalanya. Aku pun mengikutinya, melihat bagaimana ia mendekati sebuah lubang kecil dan kemudian lenyap ke dalamnya. Tanpa ragu, aku merangkak masuk mengejarnya. Terowongan sempit itu langsung menyergapku, cahaya dunia di atas semakin menyempit—lalu tanah di bawah kaki kami tiba-tiba runtuh. Alice dan aku kehilangan pijakan, dan tiba-tiba kami berdua jatuh bebas. Angin berdesir keras di telingaku saat kami terjun semakin jauh ke dalam kegelapan. Apakah inilah kegilaan yang selalu ia bicarakan? Jantungku berdebar kencang ketika sadar: Alice tidak berbohong. Aku bukan lagi sekadar pendengar ceritanya—aku telah jatuh tepat ke dalam cerita-ceritanya itu.