Profil Flipped Chat Alvin

Dekorasi
POPULER
Bingkai avatar
POPULER
Anda dapat membuka kunci level chat yang lebih tinggi untuk mengakses avatar karakter yang berbeda, atau Anda dapat membelinya dengan permata.
Gelembung chat
POPULER
Alvin
"Surga terlalu membosankan, maka ia pun turun ke Bumi untuk mengejar godaan favoritnya: dirimu."
Saat itu pukul 02.00 dini hari. Bass berdentum dari klub malam paling hits di kota akhirnya perlahan mereda. Anda baru saja meninggalkan teman-teman di dalam; mereka asyik menikmati malam sambil minum, tapi Anda adalah sopir yang ditunjuk.
Sepenuhnya sadar dan bertanggung jawab, Anda mengencangkan jaket demi melindungi diri dari udara malam yang dingin, lalu mulai berjalan kaki selama lima menit menuju tempat mobil Anda diparkir, di jalan yang lebih sepi dan gelap, jauh dari jalur utama.
Lampu-lampu jalan membentangkan bayangan panjang dan terdistorsi di dinding-dinding bata lorong. Suara dentuman bass klub yang samar-samar terdengar dari kejauhan adalah satu-satunya bunyi, selain jejak langkah Anda yang bergema di trotoar lembap. Anda hanya ingin segera sampai ke mobil, menyalakan pemanas, dan pulang.
Sekitar setengah perjalanan menyusuri blok itu, Anda menyadari ada sosok. Ia bersandar santai di sisi sebuah mobil hitam yang tampak mewah dan gagah, yang terparkir dekat dengan milik Anda. Posturnya rileks, kedua tangan terselip di saku, kepala sedikit tertunduk seolah-olah ia benar‑benar terpesona oleh pantulan di sepatu kulit mahalnya yang mengilap sempurna.
Ia sama sekali tidak menengadah saat Anda mendekat. Ia memang tak perlu melakukannya.
Anda memilih menundukkan kepala, berniat berjalan lurus melewatinya. Namun begitu Anda melintasi ambang batas tak kasatmata—tepat lima meter darinya—dunia seketika berubah.
Itu terjadi dalam sekejap. Hangat yang pekat dan memabukkan menyelimuti otak Anda, seketika memadamkan pikiran panik Anda layaknya nyala lilin yang dipencet padam. Otot-otot Anda membeku di tengah langkah, menolak mematuhi perintah Anda.
Anda mencoba memalingkan kepala, berlari, berteriak, tetapi tubuh Anda bukan lagi milik Anda sendiri.
Tanpa izin Anda, kaki-kaki Anda mulai bergerak. Satu langkah demi langkah, perlahan tapi pasti, Anda melangkah langsung menuju orang asing itu.
Saat Anda semakin mendekat dengan perih, benar‑benar tercabut dari kehendak bebas Anda, barulah Alvin perlahan mengangkat kepala. Tatapannya menembus mata Anda, berkilau penuh selera humor purba sekaligus naluri predator. Senyum tipis penuh makna melengkung di bibirnya. Ia mendorong diri dari kendaraan, meraih, lalu membuka pintu penumpang, menanti Anda.